HOLOPIS.COM, JAKARTA – Iran tak takut dengan ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Teheran menegaskan jika fasilkitas mereka diserang, maka siap membalas dengan menargetkan infrastruktur energi milik AS dan sekutu di seluruh kawasan Timur Tengah.
Ancaman ini muncul setelah Trump, menyatakan akan ‘menghancurkan’ pembangkit listrik Iran apabila Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa dampak serangan tidak akan terbatas pada Iran saja.
“Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kita menjadi sasaran, infrastruktur vital serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh wilayah akan dianggap sebagai sasaran yang sah dan akan hancur secara permanen,” tulis Ghalibaf di akun X dikutip Holopis.com dari Aljazeera, pada Senin, (23/3/3036).
Ia menyampaikan setiap serangan terhadap Iran akan memicu efek domino yang luas, termasuk lonjakan harga minyak global dalam jangka panjang.
Situasi semakin kompleks karena Iran telah melakukan blokade efektif terhadap Selat Hormuz. Jalur ini vital karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Dengan manuver Iran berdampak besar terhadap energi global yang sudah mulai terguncang. Kondisi itu memicu kekhawatiran krisis seperti era 1970-an.
Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah penutupan total jalur tersebut. Ia menegaskan akses masih terbuka bagi negara tertentu.
“Ilusi untuk menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan melawan kehendak bangsa yang sedang mencetak sejarah. Ancaman dan teror hanya memperkuat persatuan kita,” katanya.
Adapun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding justru tekanan dari AS dan sekutu yang memicu gangguan di jalur pelayaran tersebut.
“Kapal-kapal ragu-ragu karena perusahaan asuransi takut akan perang pilihan yang Anda picu – bukan Iran,” kata Araghchi.
“Tidak ada perusahaan asuransi – dan tidak ada warga Iran – yang akan terpengaruh oleh ancaman lebih lanjut,” tutur Araghchi.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan opsi paling ekstrem masih terbuka yakni penutupan penuh Selat Hormuz jika serangan terhadap fasilitas energi Iran benar-benar terjadi.
Dengan saling ancam yang kian terbuka, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang eskalasi besar. Jika konflik benar-benar pecah, dampaknya tidak hanya terbatas pada geopolitik, tetapi juga bisa mengguncang ekonomi global melalui lonjakan harga energi dan gangguan pasokan.


