I’tikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan, Begini Ketentuan dan Amalan yang Dianjurkan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, banyak umat Islam mulai memadati masjid untuk menjalankan i’tikaf. Ibadah ini menjadi salah satu amalan yang dianjurkan karena memberi kesempatan bagi seorang Muslim untuk lebih fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Secara umum, i’tikaf adalah aktivitas berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Ibadah ini biasanya dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW.

Hal tersebut sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah ra dalam sebuah hadis yang sangat masyhur:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشَرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللّٰهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
(رواه مسلم)

“Sesungguhnya Nabi saw. selalu beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Muslim).

Ketentuan Orang yang Beri’tikaf

Para ulama menjelaskan bahwa orang yang melakukan i’tikaf, disebut mu’takif, sebaiknya tetap berada di dalam masjid selama masa i’tikafnya. Hal ini karena inti dari i’tikaf adalah menetap di masjid untuk mengkhususkan waktu beribadah dan meninggalkan kesibukan duniawi.

- Advertisement -

Dengan berdiam di masjid, seseorang dapat lebih fokus menjalankan berbagai aktivitas spiritual seperti salat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.

Meski demikian, para ulama juga menjelaskan bahwa mu’takif diperbolehkan keluar dari masjid dalam beberapa kondisi tertentu.

Pertama, karena alasan syar’i. Misalnya untuk melaksanakan salat Jumat apabila masjid tempat ia beri’tikaf tidak menyelenggarakan salat Jumat.

Kedua, karena kebutuhan manusia yang bersifat alami, seperti buang air besar, buang air kecil, atau mandi janabah.

Ketiga, karena keadaan darurat, misalnya jika terjadi kerusakan pada bangunan masjid yang dapat membahayakan jamaah.

Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam tetap mempertimbangkan kebutuhan manusia serta kondisi yang dihadapi oleh orang yang menjalankan ibadah.

Amalan yang Dianjurkan Saat I’tikaf

Selama menjalankan i’tikaf di masjid, terdapat sejumlah amalan yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu dengan ibadah yang lebih intensif.

1. Melaksanakan salat sunah

Mu’takif dapat memperbanyak salat sunah seperti salat tahiyatul masjid ketika memasuki masjid, salat malam, serta berbagai salat sunah lainnya.

2. Membaca Al-Qur’an dan tadarus

Tilawah Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan, terutama pada bulan Ramadan. Suasana masjid yang lebih tenang sering dimanfaatkan oleh mu’takif untuk membaca Al-Qur’an dengan lebih khusyuk.

3. Berdzikir dan berdoa

Dzikir merupakan amalan yang sederhana tetapi memiliki nilai besar dalam Islam. Dengan berdzikir, seorang Muslim dapat terus mengingat Allah sekaligus memperbanyak doa selama i’tikaf.

4. Membaca buku-buku agama

Selain ibadah langsung seperti salat dan dzikir, mu’takif juga dapat memanfaatkan waktu untuk membaca literatur keagamaan, seperti tafsir Al-Qur’an, hadis, atau buku-buku yang membahas ajaran Islam.

Melalui berbagai amalan tersebut, i’tikaf menjadi momen penting bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Waktu yang biasanya dipenuhi berbagai aktivitas sehari-hari dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadan yang penuh keutamaan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU