IHSG Diproyeksi Volatil Akibat Tekanan Geopolitik Global, Sektor Komoditas Berpeluang Menguat

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tekanan geopolitik global kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global, meski peluang tetap terbuka pada sektor berbasis komoditas.

IHSG diperkirakan akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada perdagangan pekan ini. Proyeksi tersebut disampaikan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, yang menilai meningkatnya risiko geopolitik global menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar saham domestik.

“IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi, dengan level support di 8.031 dan resistance di 8.437,” ujar Imam dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Holopis.com, Senin (2/3/2026).

Menurut Imam, eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah meningkatkan premi risiko di pasar keuangan global. Situasi tersebut semakin sensitif karena berkaitan dengan perkembangan di sekitar Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.

Ketidakpastian geopolitik ini dinilai berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak mentah dan gas. Kondisi tersebut biasanya diikuti dengan pergeseran aliran dana global ke aset-aset safe haven, seperti emas dan obligasi, yang pada gilirannya dapat menekan arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Imam menilai dampak terhadap IHSG tidak sepenuhnya negatif. Kenaikan harga energi justru berpeluang menjadi penopang bagi sektor tertentu di Bursa Efek Indonesia, khususnya saham-saham di sektor energi dan pertambangan.

- Advertisement -

“Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi memperoleh manfaat dari sisi peningkatan harga jual rata-rata serta peluang perbaikan margin emiten,” ujarnya.

Dalam kondisi global yang tidak menentu, saham berbasis komoditas kerap dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global. Selama harga komoditas bertahan di level tinggi dan stabil, sektor ini dinilai dapat memberikan bantalan bagi pergerakan IHSG.

Namun, Imam juga mengingatkan adanya risiko lanjutan apabila lonjakan harga energi berlangsung terlalu tajam dan berkepanjangan. Kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global serta memberi dampak terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak dapat memperlebar defisit neraca transaksi berjalan melalui peningkatan nilai impor migas. Di saat yang sama, volatilitas rupiah berpotensi meningkat, terutama jika disertai kenaikan imbal hasil obligasi global.

“Jika rupiah melemah dan yield global naik, volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko,” kata Imam.

Dengan demikian, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek sangat ditentukan oleh keseimbangan antara manfaat kenaikan harga energi bagi emiten komoditas dan potensi tekanan inflasi yang dapat mengganggu stabilitas makroekonomi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU