HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis pagi (26/2/2026). Sentimen positif dari Wall Street dan reli pemecahan rekor di bursa Asia-Pasifik menjadi pendorong utama pergerakan indeks domestik di awal sesi.
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka naik 29,13 poin atau 0,35% ke level 8.351,36. Tercatat sebanyak 300 saham menguat, 150 saham melemah, dan 519 saham stagnan.
Nilai transaksi awal mencapai Rp726,4 miliar dengan volume 1 miliar saham yang berpindah tangan dalam 102.900 kali frekuensi transaksi. Kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia pun terkerek naik ke angka Rp14.970 triliun.
Namun, euforia pembukaan ini terpantau bergerak fluktuatif. Selang beberapa menit kemudian, penguatan IHSG mulai terpangkas bahkan sempat melemah tipis 0,06%.
Bursa Asia Berpesta
Kinerja IHSG hari ini dibayangi oleh tren positif bursa regional Asia-Pasifik yang mayoritas menghijau. Pasar saham Jepang kembali menjadi bintang setelah indeks Nikkei 225 melonjak 1,1% ke level 59.199,31, mencetak rekor tertinggi baru selama tiga hari berturut-turut.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI naik 1,65% setelah Bank of Korea (BoK) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 2,5%, sesuai ekspektasi pasar. Saham raksasa teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix turut terkerek masing-masing 1,97% dan 2,26%.
Reli ini mengikuti jejak Wall Street yang berakhir solid semalam. Indeks S&P 500 naik 0,81%, sementara Nasdaq melesat 1,26% yang dipicu oleh kinerja keuangan Nvidia yang melampaui ekspektasi analis.
Bayang-Bayang Pidato Donald Trump
Meski dibuka di zona hijau, pasar keuangan Indonesia diprediksi akan bergerak sensitif sepanjang hari ini. Fokus investor tertuju pada pidato kenegaraan State of the Union 2026 yang disampaikan Presiden AS Donald Trump di hadapan Kongres.
Dalam pidatonya, Trump mengeklaim keberhasilan tahun pertama masa jabatan keduanya, mulai dari penurunan inflasi hingga penguatan pasar saham. Namun, poin yang menjadi perhatian serius pasar adalah arah kebijakan luar negeri, terutama terkait Iran.
Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dan menyebut Teheran sebagai sponsor terorisme. Narasi ini muncul di tengah meningkatnya pengerahan kekuatan militer AS di Timur Tengah.
“Situasi ini berpotensi mengarah pada eskalasi terbesar terhadap Iran sejak Revolusi 1979,” ungkap analisis pasar menanggapi minimnya rincian batasan langkah militer yang akan diambil Trump, dilansir Holopis.com dari CNBC, Kamis (26/2/2026).
Investor kini mencermati dampak geopolitik tersebut terhadap harga komoditas energi dan stabilitas pasar global secara lebih kompleks.

