BI Catat Utang Luar Negeri Indonesia per Oktober 2025 Turun Jadi USD423,9 Miliar

549
0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2025 mengalami penurunan menjadi USD423,9 miliar, dari periode bulan sebelumnya yang tercatat di angka USD425,6 miliar.

Secara bulanan, ULN Indonesia memang mengalami penurunan. Namun secara tahunan masih mencatat pertumbuhan sebesar 0,3 persen (year on year/yoy), yang dipengaruhi oleh meningkatnya ULN sektor publik.

kemudian untuk ULN pemerintah, BI mengklaim nilainya masih tetap berada pada level yang terjaga. Pada Oktober 2025, posisi ULN pemerintah tercatat sebesar USD210,5 miliar atau tumbuh 4,7 persen (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, perubahan ULN pemerintah dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, seiring dengan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional yang terjaga.

“Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel,” kata Ramdan dalam keterangan tertulisnya, dikutip Holopis.com, Senin (15/12/2025).

Ramdan menekankan, pemanfaatan ULN pemerintah yang didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen itu terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas pemerintah yang mendorong keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional.

- Advertisement -

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,2 persen, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 19,6 persen, jasa pendidikan 16,4 persen, konstruksi 11,7 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,6 persen.

ULN Swasta Kontraksi

Sementara itu, posisi ULN swasta tercatat sebesar USD190,7 miliar pada Oktober 2025, menurun dibandingkan September 2025 yang sebesar USD192,5 miliar. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,9 persen (yoy).

Penurunan tersebut terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), masing-masing mengalami kontraksi sebesar 4,7 persen dan 1,2 persen (yoy).

Adapun sektor dengan kontribusi terbesar terhadap ULN swasta berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,9 persen dari total ULN swasta.

Struktur ULN Tetap Sehat

BI menilai struktur ULN Indonesia tetap berada dalam kondisi sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,3 persen pada Oktober 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 86,2 persen dari total ULN.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” ujar Ramdan.

Untuk menjaga kondisi tersebut, BI bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Ramdan menegaskan, bahwa peran ULN ke depan akan terus dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, dengan tetap meminimalkan berbagai risiko terhadap stabilitas perekonomian.

“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” pungkas Ramdan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU