JAWA TENGAH – Densus 88 bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menggelar kegiatan kelas kontranarasi, yang secara khusus diikuti oleh dosen dan mahasiswa terpilih. Sesi ini dipandu langsung oleh Khoirul Anam yang merupakan Staf Khusus Kepala Densus 88 bidang media dan literasi.
Dalam pemaparannya, Khoirul menjelaskan secara rinci mengenai spektrum konten digital yang masuk dalam kategori intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
“Narasi ekstrem bukan lagi sekadar hadir dalam wujud propaganda kekerasan terbuka, tetapi juga sering kali menyusup lewat narasi keseharian yang dikemas dalam bentuk keagamaan, moral, atau identitas,” kata Anam dalam paparannya di kelas kontranarasi di auditorium UIN Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (25/6/2025) seperti dikutip Holopis.com.
Di kelas tersebut, peserta tidak hanya diajak untuk mengenali konten-konten yang berpotensi menyulut intoleransi, tetapi juga dilatih untuk merancang kontranarasi—yakni narasi tandingan yang mempromosikan nilai-nilai toleransi, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Untuk sesi ini, para mahasiswa berdiskusi aktif, berbagi ide kreatif, dan mencoba merumuskan konten-konten positif yang relevan dengan konteks digital anak muda saat ini. Diskusi berkembang hingga membahas bagaimana algoritma media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pesan-pesan damai dan kontra-ideologi radikal secara lebih strategis.

Suasana kelas terasa hidup dan partisipatif. Para peserta juga menyampaikan pentingnya menjadikan kontranarasi sebagai bagian integral dari kurikulum dan aktivitas kemahasiswaan, agar pemahaman terhadap bahaya ideologi kekerasan tidak hanya menjadi pengetahuan teoretik, tetapi juga keterampilan praktis yang dimiliki generasi muda.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi langkah konkret dan strategis dalam membangun kolaborasi antara akademisi, aparat penegak hukum, dan masyarakat sipil. Dengan memadukan pendekatan intelektual, narasi publik, dan penguatan kapasitas digital, kegiatan ini menegaskan bahwa upaya membendung penyebaran paham radikal tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
Lebih lanjut, Khoirul Anam juga menekankan tentang sinergi yang berkelanjutan agar ruang literasi tentang narasi anti radikalisme di lingkungan masyarakat khususnya kalangan kampus terus dikembangkan.
“Dibutuhkan sinergi yang berkelanjutan, dengan ruang dialog yang terus dibuka dan pengetahuan yang terus diperbarui, agar moderasi beragama benar-benar tumbuh menjadi budaya bersama bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Selain sesi kelas kontranarasi, Densus 88 dan UIN Salatiga juga melakukan bedah buku “JI The Untold Story” yang ditulis oleh Kadensus 88 Irjen Pol Sentot Prasetyo. Buku tersebut membahas tentang seluk beluk berdirinya Jamaah Islamiyah (JI) hingga akhirnya organisasi teroris terbesar se-Asia Tenggara itu membubarkan diri.


