Dampaknya juga dirasakan masyarakat sekitar.
Sebanyak 11 perempuan yang merupakan istri nelayan telah terlibat sebagai tenaga kerja dalam kegiatan pengolahan ikan di KNMP Ketapang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi perikanan bisa menciptakan aktivitas ekonomi tambahan di kawasan pesisir, sekaligus membuka ruang keterlibatan keluarga nelayan dalam kegiatan produktif.
Erwin menilai KNMP Ketapang telah berkembang menjadi salah satu simpul kegiatan hilirisasi yang mampu menghubungkan hasil tangkapan nelayan dengan proses pengolahan.
“Tentu ini kabar menggembirakan bahwa KNMP Ketapang bisa menjadi simpul hilirisasi yang menyerap sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Menariknya, peningkatan nilai ekonomi tak hanya berasal dari daging ikan yang diolah menjadi fillet.
Bagian ikan yang tersisa setelah proses pengolahan juga dimanfaatkan.
Kepala, tulang, hingga isi perut ikan dikumpulkan untuk selanjutnya diolah menjadi bahan baku tepung ikan.
Bagian tersebut masih memiliki nilai ekonomi.
Hasil pemanfaatan limbah ikan itu dihargai sekitar Rp3.000–Rp4.000 per kilogram.
Direktur Pengolahan Ditjen PDSPKP Budi Yuwono mengapresiasi pola pengolahan tersebut karena membuat hampir seluruh bagian ikan tetap memiliki manfaat ekonomi.
Menurut dia, pemanfaatan sisa hasil pengolahan sekaligus memperlihatkan penerapan konsep zero waste di lingkungan KNMP Ketapang.
“Kami sangat mengapresiasi bahwa hilirisasi juga mengubah limbah menjadi emas. Jadi tidak ada satu bagian pun yang terbuang,” ujar Budi.





💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...