Mereka melaporkan bahwa makanan yang disediakan sekolah diduga mengandung daging yang sudah tidak layak konsumsi dan mengeluarkan bau mencurigakan.
Namun, dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Dari pemeriksaan awal di lokasi, petugas menemukan lima masalah sanitasi di area pengolahan makanan.
Di antaranya bagian bawah lemari pendingin, rak, dan bingkai yang ditemukan dalam kondisi kotor.
Petugas juga menemukan genangan air di lantai.
Departemen Kesehatan Taipei kemudian memerintahkan pengelola memperbaiki seluruh masalah tersebut paling lambat Jumat (11/9/2026).
Apabila perintah perbaikan tidak dipenuhi, pengelola dapat dikenai denda hingga NT$200 juta atau sekitar Rp111 miliar.
Jika nantinya kasus dikategorikan sebagai keracunan makanan dan ditemukan pelanggaran terhadap Undang-Undang Pengelolaan Keamanan dan Sanitasi Pangan, denda yang dikenakan dapat berkisar antara NT$60.000 hingga NT$200 juta.
Untuk mencari penyebab kejadian, petugas mengambil 11 sampel yang terdiri atas sisa makanan, sampel lingkungan, serta sampel dari tangan pekerja dapur.
Sampel tersebut diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi yang menyebabkan para siswa mengalami gejala sakit.
Meski demikian, pemeriksaan awal menunjukkan daging yang digunakan dalam makanan pada Senin telah memenuhi persyaratan Certified Agricultural Standards (CAS) untuk ketertelusuran bahan pangan.
Karena itu, penyebab pasti diare yang dialami 87 siswa masih menunggu hasil pemeriksaan.
Wali Kota Taipei Chiang Wan-an mengatakan pemerintah kota telah mengambil langkah untuk memastikan keamanan makanan di sekolah.




