Kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur di sejumlah lokasi membuat keberadaan kapal menjadi penting.
J7 Explorer dapat digunakan untuk membawa kebutuhan logistik sekaligus menjadi tempat koordinasi tim di lapangan.
Bahkan, kapal tersebut juga dimanfaatkan sebagai lokasi rapat untuk membahas teknis pelaksanaan program pemerintah.
Dengan kata lain, kapal tersebut berfungsi layaknya “kantor berjalan” sekaligus sarana logistik ketika tim pemerintah bekerja di daerah dengan fasilitas terbatas.
Fungsi J7 Explorer semakin luas ketika digunakan di Wanam, Papua Selatan.
Di wilayah tersebut, keterbatasan fasilitas penginapan membuat kapal ikut dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sementara bagi petugas yang menjalankan tugas.
“Khusus di Wanam, Papua Selatan, karena masih terdapat keterbatasan fasilitas penginapan, kapal tersebut sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat penginapan sementara bagi para petugas selama melaksanakan kegiatan di wilayah tersebut,” ujar Rico.
Kapal tersebut menjadi bagian dari penunjang operasional di tengah kondisi lapangan yang tidak mudah.
Petugas dapat menggunakan kapal sebagai tempat beristirahat, melakukan koordinasi, sekaligus mengatur kebutuhan logistik selama kegiatan berlangsung.
Pertanyaan lain yang muncul setelah foto J7 Explorer viral adalah alasan kapal milik swasta tersebut menggunakan logo Kemhan.
Rico menjelaskan, logo tersebut berfungsi sebagai penanda bahwa kapal sedang digunakan untuk mendukung kegiatan kementerian.
Kemhan memastikan tidak ada perubahan status kepemilikan akibat penggunaan logo tersebut.
“Jadi, kapal tersebut bukan aset yang dibeli atau diadakan oleh Kemhan. Kapal tersebut merupakan sarana pendukung yang dimanfaatkan untuk membantu mobilitas, koordinasi, serta kebutuhan petugas,” kata Rico.




