HOLOPIS.COM, JAKARTA – Rencana Meta menarik cuan tambahan lewat fitur kacamata pintar garapannya mendadak berantakan. Perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg ini terpaksa menunda skema monetisasi kontroversial usai diserbu gelombang kritik tajam dari para penggunanya.
Awalnya, Meta berencana mematok tarif berlangganan sebesar 20 dolar AS (sekitar Rp325 ribuan) per bulan untuk fitur bernama Conversation Focus. Fitur aksesibilitas pada kacamata pintar Ray-Ban Meta ini berguna membantu pengguna mendengar percakapan secara lebih jernih di tengah keramaian.
Namun, yang bikin pengguna naik pitam, fitur pemrosesan audio AI tersebut sebenarnya berjalan penuh di dalam perangkat (on-device) tanpa membutuhkan koneksi pemrosesan cloud maupun operasional server Meta.
Dikutip Holopis.com dari TheTechBuzz, Selasa (28/7/2026) juru bicara Meta Tyler Yee mengonfirmasi bahwa perusahaan memutuskan membatalkan rencana penarikan biaya tersebut, setidaknya untuk sementara waktu.
“Conversation Focus akan tetap tersedia secara gratis melalui Early Access Program bagi para penguji awal,” kata Yee.
Sikap melunak ini menjadi pembalik arah yang kentara dari ambisi monetisasi Meta sebelumnya. Meski demikian, Meta menegaskan bahwa ini bukan berarti mereka menutup pintu rapat-rapat untuk opsi langganan di masa depan.
“Beberapa fitur premium akan menjadi fitur berlangganan seiring waktu,” terang Yee.
Pihak internal Meta kini mengaku bakal lebih selektif menentukan fitur mana yang layak diberi label berbayar. Kasus penarikan biaya pada fitur aksesibilitas yang murni mengandalkan chip bawaan perangkat dinilai telah “kelewat batas” dan sukar diterima akal sehat pengguna.
Gagasan mengenakan biaya pada fitur lokal ini memang langsung memicu perdebatan hangat di industri gadget. Pasalnya, konsumen makin resisten terhadap praktik jual-beli fitur berlangganan untuk kemampuan perangkat keras yang sudah mereka beli mahal di awal.
Langkah cepat Meta menarik rem darurat dinilai sebagai upaya menyelamatkan reputasi perusahaan. Langkah ini sekaligus jadi alarm bagi produsen teknologi lain yang tengah getol menyusun strategi subscription model.
Di satu sisi, insiden ini memperlihatkan rumitnya peta transformasi bisnis Meta. Mark Zuckerberg memang sedang gencar berupaya menekan ketergantungan pendapatan dari sektor iklan dengan menggali potensi recurring revenue dari pengguna hardware.
Namun untuk kasus kacamata pintar Ray-Ban ini, strategi Meta dinilai blunder karena salah memilih fitur sasaran.



