HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh personel Manggala Agni serta jajaran Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Kehutanan yang telah bekerja keras dalam penanganan pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang.
Keberhasilan ini dinilai sebagai wujud nyata kepedulian dan kontribusi Kementerian Kehutanan dalam menjaga langit Indonesia agar bebas dari asap. Keberhasilan ini juga merupakan buah kolaborasi solid antara Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), BNPB, Pemerintah Kabupaten Tangerang, serta personel TNI dan Polri.
Wamenhut Rohmat Marzuki menegaskan bahwa penanganan kebakaran di TPA Jatiwaringin ini merupakan perwujudan langsung dari arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni terkait pentingnya kerja sama lintas sektor, yang disampaikan saat Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Pengendalian Karhutla 2026 di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
“Penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan kolaborasi dari para pihak dan tidak boleh ada egosektoral,” tegas Wamenhut pada kegiatan Evaluasi dan Pembelajaran Operasi Pemadaman Kebakaran di TPA Jatiwaringin, sekaligus Penyerahan Piagam kepada Manggala Agni di Jakarta, Senin (13/7), sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com, Rabu (15/7/2026).
Operasi pemadaman yang berlangsung selama delapan hari penuh, terhitung sejak tanggal 3 hingga 10 Juli 2026, berhasil menuntaskan kebakaran hingga 100 persen. Dari total luas area TPA Jatiwaringin sebesar 33 hektare, area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 15 hektare.
Sebanyak 41 personel Manggala Agni yang berasal dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Wilayah Jawa Bali Nusra serta Sulawesi diterjunkan langsung ke lokasi sebagai garda terdepan. Selama operasi penanganan darat tersebut, volume air yang digunakan untuk melakukan pembasahan dan pemadaman mencapai sekitar 9,4 juta liter air.
Keberhasilan pemadaman di lapangan didorong oleh penerapan Manajemen 5M. Pertama, Manajemen Asap/Area yaitu melakukan pemetaan (mapping) berkala untuk mengukur progres harian agar kerja di lapangan tetap presisi dan terukur. Kedua, Manajemen Air dengan menentukan dan membuka akses sumber air di sekitar lokasi guna menyuplai kebutuhan pemadaman secara kontinu. Ketiga, Manajemen SDM melalui pengaturan jam kerja personel yang bekerja hingga 11 jam sehari, termasuk pelaksanaan pemadaman malam. Keempat, Manajemen Sarpras dengan mengoptimalkan penggunaan mesin pompa, selang, tandon, hingga koordinasi dukungan helikopter water bombing dan ekskavator. Kelima, Manajemen Logistik untuk menjamin ketersediaan nutrisi, air mineral, bahan bakar mesin, hingga obat-obatan bagi petugas di lapangan.


