Ilmuwan Australia Kembangkan AI untuk Bantu Diagnosis Skizofrenia Lewat Gelombang Otak

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Para ilmuwan di Australia berhasil mengembangkan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) yang dapat membantu dokter mendiagnosis skizofrenia dengan menganalisis pola gelombang otak.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas James Cook (James Cook University/JCU) menemukan bahwa model pembelajaran mesin (machine learning) mampu membedakan individu sehat dengan pasien skizofrenia, bahkan ketika keduanya berada dalam kondisi stres akut.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Biomedical Signal Processing and Control dan dinilai berpotensi meningkatkan akurasi diagnosis serta deteksi dini gangguan kesehatan mental tersebut.

Dikutip Holopis.com, Rabu (24/6), dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menguji algoritma pembelajaran mesin menggunakan data gelombang otak yang diperoleh melalui elektroensefalografi (electroencephalography atau EEG) dari tiga kelompok, yakni individu sehat, individu yang mengalami stres, dan pasien skizofrenia.

Hasilnya menunjukkan bahwa otak penderita skizofrenia merespons stres dengan cara yang berbeda dibandingkan otak orang sehat.

Menurut para peneliti, skizofrenia memengaruhi sekitar 1 persen populasi dunia dan berkaitan dengan tingkat kematian yang relatif tinggi. Karena itu, kemampuan untuk melakukan diagnosis yang lebih cepat dan akurat dinilai sangat penting dalam meningkatkan efektivitas penanganan penyakit tersebut.

Tim peneliti menggunakan kumpulan data EEG yang tersedia secara terbuka dan mengembangkan algoritma yang mampu memperhitungkan pengaruh stres terhadap pola gelombang otak.

Pendekatan tersebut menghasilkan pola yang konsisten dengan pemahaman medis yang telah ada sebelumnya, sekaligus memperkuat potensi penggunaan AI dalam bidang kesehatan mental.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa teknologi AI ini dirancang untuk membantu dokter dalam proses diagnosis, bukan untuk menggantikan peran tenaga medis.

Mereka juga menyebut bahwa teknologi AI yang dapat dijelaskan (explainable AI) berpotensi meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan, terutama di wilayah terpencil yang masih memiliki keterbatasan tenaga spesialis.

Oleh : Darin Brenda Iskarina
Editor : Darin Brenda Iskarina
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.