Korban Taufik Hidayat Bermunculan, Cara Licik Ini Dipakai untuk Jerat Banyak Perempuan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Modus licik Taufik Hidayat terungkap, korban bermunculan dan ungkap cara jerat banyak perempuan.

Kasus dugaan penganiayaan dan penyekapan yang melibatkan seorang pria bernama Taufik Hidayat terus berkembang.

Setelah laporan awal mencuat, sejumlah perempuan kini mulai muncul ke publik dan mengaku pernah menjadi korban dengan pola kejadian yang dinilai serupa, yakni pendekatan manipulatif sebelum diduga terjadi kekerasan dan pelecehan.

Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa Taufik diduga tidak hanya terlibat dalam satu kasus, melainkan memiliki pola relasi yang berulang dengan sejumlah perempuan di berbagai daerah, termasuk Bandung dan Garut.

Beberapa korban mengaku awalnya dikenalkan melalui media sosial sebelum kemudian diajak bertemu secara langsung.

Salah satu pengakuan yang beredar berasal dari tangkapan layar unggahan akun Instagram @sultansahbanaiman yang menampilkan pesan dari seseorang yang mengaku pernah mengalami kekerasan di sebuah penginapan di Garut.

- Advertisement -

“Dulu saya disiksa di sebuah penginapan di Garut, terus saya dipaksa harus mengikuti se*x semaunya dia, tanpa saya dikasih makan dan minum. Terus pas pulang di jalan saya lapar minta beli cuanki dan ya beli cuanki pun saya pakai duit sendiri,” demikian kutipan pengakuan yang beredar di media sosial tersebut.

Pengakuan lain juga menyebut adanya tekanan psikologis dan kekerasan verbal setelah korban tidak lagi merespons komunikasi pelaku.

Korban mengaku kerap menerima makian hingga intimidasi melalui pesan singkat.

Di tengah ramainya unggahan tersebut, sejumlah warganet turut memberikan reaksi keras.

Banyak yang menyoroti dugaan tindakan pelaku yang disebut berulang dan menyasar banyak korban.

“Kalau ketangkap langsung bakar aja Ba,” tulis akun @firdharisandhi dalam kolom komentar yang beredar luas di media sosial.

Komentar lain bahkan menunjukkan emosi yang lebih keras terhadap pelaku.

“Jangan buru-buru dibunuh kalau ketangkep, siksa pelan-pelan biar dia ngerasain menderitanya korban yang terakhir,” tulis akun @_puspaindri.

Sementara itu, ada pula warganet yang mengaku mengenal pelaku sejak kecil dan menyebut adanya perubahan perilaku yang mengarah pada tindakan agresif terhadap perempuan.

“Baba aku dari SD sekelas sama dia, ditendang kepala, dilempar batu, ditonjok, dan masih banyak. Dia tuh emang dari kecil beraninya ke cewek doang,” tulis akun @_asiyah069.

Selain dugaan kekerasan fisik, sejumlah korban lain juga mengaku mengalami pola pendekatan yang dianggap manipulatif.

Pelaku disebut kerap mendekati perempuan melalui media sosial, terutama Facebook, dengan cara berpura-pura mengenal orang tertentu untuk membangun kepercayaan.

Dalam pengakuan lain yang beredar, pelaku digambarkan sebagai sosok yang awalnya bersikap perhatian dan meyakinkan.

Namun, setelah korban mulai menjauh, muncul dugaan perubahan sikap menjadi agresif, termasuk tekanan verbal dan ancaman melalui telepon maupun pesan daring.

“Dia memang jahat, dia pintar banget cara ngetreat ceweknya, dia pintar ngomong… saya juga korban pelecehan sama dia yang susah melawan,” tulis salah satu korban yang dikutip dari unggahan yang beredar.

“Dia terus maksa aku mau jadi pacar dia, tapi aku nggak mau… tiap hari dia nelepon, VC, aku nggak angkat. Dia malah ngamuk, ngata-ngatain aku, akhirnya aku blok semua,” tambah pengakuan korban lainnya.

Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik dan viral di berbagai platform media sosial.

Aparat penegak hukum disebut tengah melakukan penelusuran terkait keberadaan terduga pelaku yang dikabarkan telah melarikan diri setelah kasus ini mencuat.

Pihak kepolisian belum mengeluarkan keterangan resmi terkait perkembangan terbaru, namun informasi yang beredar menyebutkan bahwa sejumlah laporan dari korban terus dikumpulkan untuk memperkuat proses penyelidikan.

Fenomena munculnya korban baru ini juga memicu diskusi lebih luas di masyarakat mengenai pola kekerasan berbasis relasi dan pentingnya keberanian korban untuk melapor.

Banyak pihak menilai kasus ini menunjukkan adanya pola yang berulang, di mana pelaku diduga menggunakan pendekatan personal untuk mengontrol korban sebelum terjadinya kekerasan.

Sementara itu, warganet terus mendesak agar kasus ini segera diusut tuntas.

“Buset ternyata korbannya banyak,” tulis akun @natresnaa.

Komentar lain menyebut, “Ya ampun korbannya udah banyak! Harus ketangkap ini,” tulis akun @mariahelena_purba.

Ada juga yang mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam hubungan personal.

“Kalau pacar sudah mulai main fisik, langsung tinggalin. Jangan ditoleransi,” tulis akun @rivaldolumbanraja15.

Kasus ini masih berkembang dan menjadi sorotan luas publik, terutama karena dugaan adanya lebih dari satu korban serta pola interaksi yang dinilai sistematis.

Aparat diharapkan dapat segera mengungkap fakta sebenarnya di balik laporan-laporan yang muncul serta memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Ronald Steven
Gesha Yuliani Nattasya, Ronald Steven
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU