JAKARTA – Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Menurut Arsad, Muharam tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi pengingat akan semangat hijrah yang relevan sepanjang masa. Hijrah, kata dia, bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan perubahan sikap, pola pikir, dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik.
“Refleksi Muharam mengajak kita bertanya pada diri sendiri, apakah ibadah yang kita lakukan selama ini sudah menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Kesalehan yang ideal adalah kesalehan yang mampu menghadirkan kepedulian dan kemaslahatan bagi sesama,” kata Arsad Hidayat di Jakarta, dalam siaran persnya, Senin (15/6/2026).
Ia menjelaskan, pesan tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Surat Al-Ma’un yang menegaskan bahwa keberagamaan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah personal semata. Kepedulian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan kelompok rentan menjadi bagian penting dalam implementasi ajaran agama di kehidupan sehari-hari.
Arsad menilai semangat tersebut juga tercermin dalam berbagai program pemberdayaan yang selama ini dikembangkan Kementerian Agama, mulai dari penguatan fungsi masjid, optimalisasi zakat dan wakaf, hingga layanan keagamaan yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Karena itu, Muharam dinilai sebagai momentum yang tepat untuk memperkuat budaya berbagi, gotong royong, serta meningkatkan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Jangan sampai ibadah hanya berhenti pada ritual. Muharam mengingatkan kita bahwa keberagamaan harus melahirkan empati, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kementerian Agama, Ismail Fahmi, menekankan bahwa semangat hijrah juga perlu diwujudkan dalam aktivitas masyarakat di ruang digital.
Menurutnya, media sosial kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehingga harus dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan-pesan positif, edukatif, dan menyejukkan.
“Hijrah di era digital berarti mengubah cara kita berinteraksi. Jemari kita harus menjadi sarana menyebarkan pengetahuan, inspirasi, dan pesan-pesan yang menyejukkan, bukan sebaliknya,” kata Ismail Fahmi.
Ia mengingatkan bahwa kedamaian tidak hanya diwujudkan melalui tindakan di dunia nyata, tetapi juga melalui komunikasi yang santun, bertanggung jawab, dan beretika di ruang siber.
Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam menyampaikan informasi maupun pendapat agar tidak memperkeruh suasana dengan narasi kebencian atau informasi yang menyesatkan.
Ismail menambahkan, para penyuluh agama memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi keagamaan yang moderat, ramah, dan mudah dipahami masyarakat. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperluas penyebaran nilai-nilai keagamaan yang menumbuhkan optimisme, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Agama dalam membangun ekosistem layanan keagamaan yang inklusif sebagaimana terus didorong Menteri Agama Nasaruddin Umar.
“Melalui momentum Muharam 1448 H, masyarakat diharapkan tidak hanya memperbarui semangat spiritual, tetapi juga memperkuat komitmen menghadirkan manfaat dan kedamaian bagi lingkungan sekitar,” tandasnya.


