HOLOPIS.COM, JAKARTA – Donor darah masih sering dikelilingi berbagai mitos yang membuat sebagian orang ragu untuk melakukannya. Mulai dari anggapan bahwa donor darah bisa membuat tubuh gemuk, mudah lemas, hingga menyebabkan ketergantungan.
Padahal, sebagian besar anggapan tersebut tidak didukung oleh bukti medis. Berikut beberapa mitos dan fakta seputar donor darah yang perlu diketahui.
Mitos: Donor Darah Bikin Gemuk
Salah satu mitos yang paling sering terdengar adalah donor darah dapat menyebabkan berat badan naik. Faktanya, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa donor darah secara langsung menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Berat badan seseorang lebih dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan faktor metabolisme tubuh.
Memang, setelah donor darah seseorang dianjurkan untuk makan dan minum yang cukup guna membantu proses pemulihan. Namun, hal itu bukan berarti donor darah menjadi penyebab kenaikan berat badan.
Mitos: Donor Darah Bikin Kurus
Sebaliknya, ada juga yang percaya bahwa donor darah bisa membuat tubuh menjadi lebih kurus. Faktanya, darah yang diambil saat donor hanya sekitar 350 hingga 450 mililiter, tergantung kondisi pendonor dan standar yang berlaku. Jumlah tersebut tidak cukup untuk menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan.
Berat badan yang turun sesaat setelah donor umumnya hanya berkaitan dengan berkurangnya cairan tubuh dan akan kembali normal setelah kebutuhan cairan terpenuhi.
Mitos: Donor Darah Menyebabkan Lemas Berkepanjangan
Sebagian orang khawatir donor darah akan membuat tubuh terus-menerus lemas. Faktanya, rasa lelah atau sedikit pusing memang dapat dirasakan sebagian pendonor sesaat setelah proses donor darah. Namun kondisi tersebut biasanya bersifat sementara dan akan membaik setelah beristirahat, makan, dan minum yang cukup.
Karena itu, pendonor biasanya diminta duduk sejenak setelah donor darah selesai dan menghindari aktivitas berat selama beberapa jam.
Mitos: Donor Darah Bisa Menyebabkan Ketagihan
Ada pula anggapan bahwa seseorang yang rutin donor darah akan menjadi ketagihan untuk terus melakukannya. Faktanya, donor darah tidak menimbulkan ketergantungan secara fisik maupun psikologis. Keinginan untuk kembali mendonor umumnya muncul karena kesadaran bahwa darah yang diberikan dapat membantu menyelamatkan nyawa orang lain.
Itulah sebabnya banyak pendonor rutin yang kembali mendonorkan darahnya setiap beberapa bulan sekali.
Fakta: Satu Kantong Darah Bisa Membantu Lebih dari Satu Orang
Ini adalah salah satu fakta yang sering tidak diketahui masyarakat. Darah yang didonorkan tidak selalu diberikan utuh kepada satu pasien. Dalam banyak kasus, darah akan dipisahkan menjadi beberapa komponen seperti sel darah merah, plasma, dan trombosit.
Karena itu, satu kali donor darah berpotensi membantu lebih dari satu pasien yang memiliki kebutuhan medis berbeda.
Donor darah merupakan prosedur yang aman selama dilakukan sesuai standar kesehatan dan di bawah pengawasan petugas medis. Jika kondisi tubuh memenuhi syarat, tidak ada alasan untuk takut mendonorkan darah dan ikut membantu mereka yang membutuhkan.


