HOLOPIS.COM, MAROS – Dinas Kesehatan Kabupaten Maros mencatat penambahan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) selama lima bulan pertama tahun 2026. Hingga Mei, sebanyak 17 kasus baru ditemukan di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus, mengungkapkan secara kumulatif terdapat 166 Orang dengan HIV (ODHIV) yang saat ini menjalani terapi antiretroviral (ARV).
Data tersebut merupakan akumulasi kasus yang terdeteksi sejak 2017 hingga 2026.
“Dari total kasus yang ada, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Satu di antaranya merupakan pasien lama, sedangkan dua lainnya berasal dari kasus yang ditemukan tahun ini,” ujar Yunus.
Menurutnya, pasien yang terdiagnosis HIV saat ini menjalani pengobatan rutin di RSUD dr. La Palaloi Maros maupun sejumlah puskesmas yang menyediakan layanan HIV.
Yunus menjelaskan sebagian besar penderita HIV di Maros berasal dari kelompok usia produktif, yakni antara 20 hingga 40 tahun.
Selain itu, mayoritas kasus ditemukan pada laki-laki dan banyak terdeteksi di kawasan perkotaan, termasuk Kecamatan Turikale.
Ia mengatakan penemuan kasus tidak hanya berasal dari kegiatan skrining, tetapi juga melalui pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di fasilitas layanan kesehatan.
“Karena HIV termasuk penyakit yang sensitif, banyak kasus baru diketahui saat pasien menjalani pemeriksaan kesehatan untuk keperluan tertentu,” katanya.
Terkait faktor penularan, Yunus menyebut hubungan seksual berisiko dan penggunaan narkotika suntik masih menjadi penyebab yang paling dominan.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah yang tidak aman.
Sejumlah gejala yang kerap dialami penderita HIV antara lain demam berkepanjangan, diare yang tidak kunjung sembuh, penurunan nafsu makan, serta berkurangnya berat badan secara signifikan.
“Masyarakat yang mengalami gejala tersebut sebaiknya segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Ia menegaskan HIV belum dapat disembuhkan, namun pengobatan ARV dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memperpanjang harapan hidup penderita.
Sementara itu, Bupati Maros, Chaidir Syam, menyatakan pemerintah daerah akan meningkatkan upaya pencegahan melalui edukasi dan sosialisasi yang menyasar pelajar maupun masyarakat umum.
Menurutnya, kampanye pencegahan perlu terus diperkuat, khususnya terkait bahaya penyalahgunaan narkoba dan perilaku seksual berisiko yang menjadi faktor utama penularan HIV.
“Kami berharap edukasi yang masif dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, sehingga mereka terhindar dari perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV,” kata Chaidir.

