HOLOPIS.COM, JAKARTA — Alih-alih bersolek demi memikat modal asing, superholding Danantara memilih bertindak ekstrem bagai tim bedah yang melakukan “amputasi finansial” secara terbuka terhadap beban warisan BUMN senilai Rp150 triliun. Langkah radikal ini sengaja diekspos sebelum lembaga pengelola investasi raksasa tersebut mempublikasikan laporan keuangan perdananya kepada publik global.
Keputusan menunda rilis laporan konsolidasi hingga pertengahan tahun ini merupakan bentuk karantina finansial yang disengaja oleh manajemen. Di tengah ekspektasi tinggi pasar, Danantara justru memanfaatkan momentum ini untuk mensterilkan “mutasi genetik” tata kelola yang buruk sebelum struktur keuangannya terkontaminasi lebih jauh.
Inisiator aksi bersih-bersih brutal ini adalah Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, yang menegaskan bahwa institusinya menolak mewarisi bom waktu finansial dari masa lampau. Saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (19/5/2026), Dony menunjukkan sikap tanpa kompromi dalam membedah portofolio pelat merah.
“Kita sedang bereskan buku-buku semua. Impairment kita rapihkan dulu,” tegas Dony lugas saat memberikan keterangan mengenai kelanjutan integrasi aset-aset raksasa di bawah kendali Danantara.
Strategi ini menandai lahirnya era baru di mana Danantara menolak menjadi “penampung sampah” bagi inefisiensi korporasi pelat merah masa lalu. Dengan memaksa seluruh entitas di bawahnya melakukan audit forensik, superholding ini menetapkan standar baru bahwa kesehatan fundamental jauh lebih berharga daripada pencitraan angka yang semu.
Dony mengungkapkan bahwa akar dari carut-marut keuangan ini bersumber dari kebiasaan lama manajemen BUMN yang gemar menyembunyikan kerugian di balik tameng rekayasa akuntansi. Kebiasaan merias angka demi performa sesaat inilah yang kini dihentikan secara paksa melalui pembenahan tata kelola yang ketat.
“Financial engineering tujuannya performance terlihat lebih baik. Karena investasi yang digelembungkan dan dibesar-besarkan. Rugi karena keteledoran dalam memanage atau rugi karena fraud,” ujar Dony secara blak-blakan membongkar praktik di balik layar BUMN.
Sebagai konsekuensi dari pembersihan ini, Danantara secara terbuka mengekspos penurunan nilai aset (impairment) bermasalah yang menembus angka fantastis hampir Rp100 triliun pada tahun ini. Angka tersebut merupakan akumulasi dari keputusan investasi masa lalu yang tidak produktif dan dipaksakan.
Tidak berhenti di situ, pisau bedah transparansi Danantara juga menyasar sektor dana pensiun (dapen) BUMN yang selama ini menjadi area abu-abu. Superholding ini memilih untuk tidak menutupi risiko gagal bayar (potential default) di sektor dapen yang mencapai Rp50 triliun.
“Anda bisa bayangkan pada tahun ini saja impairment hampir Rp100 triliun akibat kesalahan tata kelola. Tahun ini saya harus menyelesaikan lagi potential default dan eksposur kita dana pensiun kurang lebih Rp50 triliun,” tambah Dony memaparkan skala pembenahan yang tengah dipimpinnya.
Bagi pengamat ekonomi, keberanian Danantara menyajikan data pahit ini justru menaikkan daya tawar Indonesia di mata lembaga pemeringkat kredit internasional. Dengan mengakui kelemahan secara terbuka sebelum laporan dirilis, Danantara membuktikan bahwa mereka dikelola dengan standar manajemen risiko kelas satu.
Melalui terapi kejut ini, Danantara tidak sekadar merilis laporan keuangan di pertengahan tahun nanti, melainkan melahirkan kembali ekosistem investasi yang telah lolos dari sterilisasi finansial. Langkah ini memastikan bahwa setiap sen investasi yang masuk kelak akan berdiri di atas fondasi yang sepenuhnya bersih dan bebas dari liabilitas tersembunyi.



