JAKARTA, HOLOPIS.COM – Hari Ibu Internasional atau Mother’s Day pada tahun 2026 diperingati pada Minggu, 10 Mei 2026. Perayaan ini jatuh setiap hari Minggu kedua di bulan Mei di banyak negara, termasuk Amerika Serikat, Indonesia, Filipina, Jepang, Australia, dan sejumlah negara lainnya.
Namun di balik tradisi memberi bunga, kartu ucapan, atau hadiah kepada ibu, sejarah Hari Ibu ternyata memiliki perjalanan panjang yang sarat perjuangan sosial, nilai kemanusiaan, hingga gerakan perdamaian dunia.
Akar Sejarah Hari Ibu: Sudah Ada Sejak Peradaban Kuno
Tradisi menghormati sosok ibu sebenarnya telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Dalam peradaban Yunani kuno, masyarakat memberikan penghormatan kepada Rhea, ibu para dewa dalam mitologi Yunani. Sementara bangsa Romawi kuno memiliki festival bernama Hilaria yang dipersembahkan untuk Cybele, sosok “ibu agung” dalam kepercayaan mereka.
Di Eropa abad pertengahan, muncul tradisi “Mothering Sunday” di Inggris. Pada hari tersebut, orang-orang yang merantau diberi kesempatan pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi gereja induk sekaligus berkumpul bersama ibu mereka. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi bentuk penghormatan kepada ibu dalam lingkup keluarga.
Sejarah modern Hari Ibu tidak bisa dilepaskan dari sosok Ann Reeves Jarvis dan putrinya, Anna Jarvis di Amerika Serikat.
Ann Reeves Jarvis adalah seorang aktivis sosial yang hidup pada abad ke-19. Ia dikenal aktif membentuk kelompok perempuan untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama bagi ibu dan anak.
Pada masa itu, angka kematian bayi di Amerika masih sangat tinggi akibat sanitasi buruk dan wabah penyakit. Karena itu, Ann Jarvis mendirikan “Mother’s Work Clubs” untuk mengajarkan kebersihan dan kesehatan kepada para ibu.
Setelah berakhirnya American Civil War, Ann Jarvis juga menggagas “Mother’s Friendship Day” pada tahun 1868 guna mempertemukan kembali keluarga-keluarga yang terpecah akibat perang.
Dari sini terlihat bahwa Hari Ibu modern pada awalnya bukan sekadar perayaan keluarga, melainkan lahir dari semangat kemanusiaan, perdamaian, dan kepedulian sosial.
Setelah Ann Reeves Jarvis wafat pada tahun 1905, putrinya Anna Jarvis bertekad mewujudkan impian ibunya agar ada satu hari khusus untuk menghormati jasa para ibu.
Pada 10 Mei 1908, Anna Jarvis menyelenggarakan peringatan Hari Ibu pertama di sebuah gereja di Grafton, West Virginia, Amerika Serikat. Tanggal tersebut dipilih karena berdekatan dengan wafatnya sang ibu dan jatuh pada Minggu kedua bulan Mei.
Anna Jarvis membagikan 500 bunga anyelir putih kepada para peserta sebagai simbol kasih sayang dan ketulusan seorang ibu. Dari sinilah bunga anyelir kemudian identik dengan Hari Ibu.
Gerakan itu berkembang cepat ke berbagai negara bagian di Amerika Serikat.
Pada tahun 1914, Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson secara resmi menetapkan Hari Ibu sebagai hari nasional yang diperingati setiap Minggu kedua bulan Mei.
Ironi Sejarah: Pendiri Hari Ibu Justru Menentang Komersialisasi
Menariknya, Anna Jarvis justru menjadi orang yang paling kecewa terhadap perkembangan Hari Ibu modern.
Ia merasa perayaan tersebut berubah menjadi ajang bisnis besar-besaran bagi perusahaan kartu ucapan, toko bunga, restoran, hingga industri hadiah.
Anna Jarvis menilai makna penghormatan tulus kepada ibu telah tergeser oleh budaya konsumtif. Ia bahkan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memprotes komersialisasi Hari Ibu dan berusaha menghapus perayaan tersebut.
Menurut Anna Jarvis, bentuk penghormatan terbaik kepada ibu bukanlah hadiah mahal, melainkan perhatian, cinta, surat tulisan tangan, dan waktu bersama keluarga.
Hari Ibu di Berbagai Negara Dunia
Meski banyak negara mengikuti tradisi Amerika Serikat dengan merayakan Hari Ibu pada Minggu kedua Mei, beberapa negara memiliki tanggal dan tradisi berbeda.
Contohnya:
- Inggris merayakan “Mothering Sunday” pada Minggu keempat masa Prapaskah.
- Thailand memperingati Hari Ibu pada 12 Agustus, bertepatan dengan ulang tahun Ratu Sirikit.
- Ethiopia memiliki festival Antrosht sebagai penghormatan keluarga kepada ibu.
- Negara-negara Arab merayakan Hari Ibu setiap 21 Maret, bertepatan dengan awal musim semi.
Hal ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap ibu merupakan nilai universal yang hadir di hampir semua budaya dunia.
Sejarah Hari Ibu di Indonesia Berbeda dengan Hari Ibu Internasional
Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember, bukan pada Mei seperti Hari Ibu Internasional.
Hari Ibu Indonesia memiliki akar sejarah perjuangan perempuan nasional.
Tanggal tersebut merujuk pada pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres itu menjadi tonggak penting gerakan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan pendidikan, hak perempuan, peran sosial, hingga kemerdekaan bangsa.
Karena itu, makna Hari Ibu di Indonesia tidak hanya menghormati sosok ibu dalam keluarga, tetapi juga menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam kehidupan sosial, politik, dan kebangsaan.
Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden Nomor 316 Tahun 1959 pada era Presiden Soekarno.
Makna Hari Ibu di Era Modern
Di era modern, Hari Ibu tidak lagi hanya dimaknai sebagai perayaan personal dalam keluarga.
Perayaan ini juga menjadi momentum untuk:
- Menghargai peran perempuan dalam masyarakat.
- Mengingat pentingnya kesehatan ibu dan anak.
- Mendorong kesetaraan gender.
- Menghormati perjuangan ibu tunggal dan perempuan pekerja.
- Menguatkan hubungan emosional dalam keluarga.
Hari Ibu juga menjadi pengingat bahwa peran ibu bukan hanya melahirkan dan membesarkan anak, tetapi juga membentuk karakter, pendidikan, budaya, bahkan masa depan bangsa.
Refleksi untuk Masyarakat Indonesia
Bagi masyarakat Indonesia, memahami sejarah Hari Ibu Internasional penting untuk memperluas literasi sejarah dan budaya global.
Dari sejarah tersebut, masyarakat dapat belajar bahwa penghormatan kepada ibu lahir dari nilai kemanusiaan, solidaritas sosial, perdamaian, dan penghargaan terhadap perjuangan perempuan.
Karena itu, makna Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau pemberian hadiah semata, tetapi juga diwujudkan melalui penghormatan nyata terhadap perempuan, perlindungan hak ibu dan anak, serta membangun keluarga yang sehat dan harmonis.
Pada akhirnya, Hari Ibu adalah pengingat bahwa di balik lahirnya setiap generasi, selalu ada pengorbanan, cinta, dan perjuangan seorang ibu yang sering kali tidak terlihat, tetapi menjadi fondasi utama kehidupan manusia.


