5 Tahun Terisolir, Jembatan Garuda Ubah Hidup 3 Desa di Sukoharjo

1 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harapan panjang warga akhirnya terwujud. Setelah lebih dari lima tahun terisolasi, tiga desa di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, kini kembali terhubung berkat pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Desa Tangkisan.

Jembatan ini menjadi penghubung vital antara Dukuh Tanjung Sari (Desa Tangkisan), Dukuh Sari Mulyo (Desa Majasto), dan Dukuh Tambak Rejo (Desa Tambak Boyo). Sebelumnya, warga harus menempuh jarak hingga 7 kilometer dengan waktu sekitar 30 menit, padahal jarak sebenarnya bisa ditempuh hanya dalam 3 hingga 5 menit.

- Advertisement -

Sekretaris Desa Tangkisan, Haryono, mengungkapkan betapa sulitnya kondisi sebelum jembatan dibangun.

“Kita mau ke Pasar Tublik kita harus memutar dulu. Kita bisa menghabiskan waktu paling tidak 30 menit untuk kita berkomunikasi ke Dukuh Tambak Rejo dan Desa Tambak Boyo,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip Holopis.com pada Jumat (24/4/2026).

- Advertisement -

Ia menegaskan, akses antarwilayah telah terputus selama lebih dari lima tahun dan sangat dinantikan oleh masyarakat. “Kita sudah menanti untuk itu,” tambahnya.

Dampak Besar untuk Petani dan Pelajar

Keberadaan jembatan ini membawa perubahan besar, terutama bagi petani dan pelajar. Banyak warga yang memiliki lahan di seberang sungai kini bisa menjangkaunya dengan lebih cepat.

Akses pendidikan juga semakin mudah, khususnya bagi siswa yang bersekolah di SMP Tawang Sari.

“Memang benar-benar dibutuhkan untuk akses pendidikan. Terus untuk berkomunikasi bersilaturahmi dari Tanjung Sari ke Tambak Rejo juga berkurang karena harus memutar sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 7 km,” jelas Haryono.

Rasa syukur juga disampaikan warga atas pembangunan jembatan ini.

“Alhamdulillah kami sangat senang sekali. Kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari Prabowo Subianto yang telah berkenan membantu kami,” ujar Haryono.

Ketua RW 6 Desa Tangkisan, Purwadi, juga menggambarkan dampak signifikan yang dirasakan masyarakat, terutama bagi para petani.

“Terutama dari anak sekolah dan pejuang pangan, petani, itu sangat terganggu,” katanya.

Ia menambahkan, sebelumnya petani harus menempuh jarak hingga 4–6 kilometer untuk mencapai lahan mereka.

“Jadi untuk akses beliau-beliau para petani itu ke sawah, itu jauh banget mas, muternya. Harus lewat mungkin bisa 4 sampai 6 kilo. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Itu baru sampai ke lahan,” jelasnya.

Kini, dengan hadirnya jembatan tersebut, mobilitas warga menjadi lebih cepat, aktivitas ekonomi meningkat, dan hubungan sosial antarwarga yang sempat terhambat kembali terjalin erat.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
1 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru