HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hasil imbang tanpa gol Timnas Indonesia U-17 melawan Vietnam U-17 tak hanya menghentikan langkah Garuda Muda di Piala AFF U-17 2026. Namun, juga membuka ruang evaluasi besar jelang panggung yang lebih penting: Piala Asia U-17.
Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto secara terbuka mengakui bahwa strategi yang diterapkan belum berjalan sempurna, khususnya dalam fase transisi menyerang. Meski pendekatan bertahan mampu meredam agresivitas Vietnam, efektivitas serangan balik masih jauh dari harapan.
“Kami menyiapkan game plan bertahan dan counter attack. Tapi saat melakukan serangan balik, hasilnya belum maksimal dan ini menjadi catatan sebelum kami bertanding di Piala Asia,” kata Kurniawan usai pertandingan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur, dikutip pada Senin, (20/4/2026).
Pendekatan defensif memang bukan tanpa alasan. Kurniawan menilai Vietnam tampil sangat agresif dalam dua laga sebelumnya, sehingga timnya memilih bermain lebih disiplin di lini belakang.
Hasilnya, lini pertahanan mampu bekerja cukup solid sepanjang pertandingan.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa pekerjaan rumah terbesar tim saat ini adalah memperbaiki alur transisi dari bertahan ke menyerang. Hal itu terutama ketika jumlah pemain di depan terbatas.
“Ketika kami bermain dengan lima pemain di belakang, dukungan ke depan memang lebih sedikit. Jadi kami harus memaksimalkan counter attack,” ujar eks pemain Timnas Indonesia itu.
Strategi tersebut juga sempat menuai kritik dari pihak lawan yang menginginkan pertandingan berjalan lebih terbuka. Namun dia menegaskan pendekatan itu adalah bagian dari rencana jangka panjang, bukan sekadar respons situasional.
“Kami memang sengaja bermain defend counter. Kami tunggu mereka di area sendiri dan berharap bisa melakukan serangan balik,” tuturnya.
Di luar aspek taktik, fokus kini beralih pada pembentukan skuad terbaik. Dari total 50 pemain yang masuk dalam daftar awal, tim pelatih akan menyaring menjadi 23 nama yang akan dibawa ke Piala Asia U-17.
Selain itu, terdapat tambahan tiga pemain baru untuk memperkuat komposisi tim, yakni Matt Baker, Noah, dan Mike yang berposisi sebagai penjaga gawang. “Dalam beberapa hari ke depan kita akan evaluasi untuk memilih pemain terbaik,” ujarnya.
Di bawah mistar, Abdillah Ishak menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian berkat performa gemilangnya saat laga melawan Vietnam. Ia tampil pede dengan melakukan sejumlah penyelamatan penting yang menjaga Indonesia tetap kompetitif sepanjang laga.
“Saya bermain lepas saja karena sudah diberikan kepercayaan oleh pelatih dan saya tidak mau membuat malu negara ini,” kata Abdillah.
Kiper muda tersebut menegaskan komitmennya untuk terus berkembang demi menjaga kepercayaan tim pelatih.
“Yang paling menentukan ya harus dipercaya oleh tim pelatih, jadi saya harus bekerja keras saat latihan,” tuturnya.
Adapun babak semifinal Piala AFF U-17 2026 akan menghadirkan dua laga ketat. Semifinal pertama antara Laos melawab Malaysia pada Rabu (22/4) pukul 15.30 WIB di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.
Laos melaju sebagai juara Grup B, sedangkan Malaysia lolos sebagai runner-up Grup A setelah mengalahkan Timor Leste 2-0.
Pada semifinal lainnya, Vietnam akan berhadapan dengan Australia pada hari yang sama pukul 19.30 WIB. Vietnam melangkah sebagai juara Grup A dengan tujuh poin, sementara Australia keluar sebagai juara Grup C.
Dua pemenang semifinal akan bertarung di partai final pada 24 April. Sementara, tim yang kalah akan memperebutkan posisi ketiga.
Bagi Indonesia, kegagalan di fase grup menjadi alarm perjalanan menuju Piala Asia U-17 2026 yang membutuhkan pembenahan serius—terutama dalam mengubah bertahan menjadi ancaman nyata.

