HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menilai gejolak geopolitik dunia yang dipicu konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel harus dijadikan momentum untuk mempercepat transformasi energi nasional. Pemerintah, kata Prabowo, perlu menjadikan situasi krisis sebagai pendorong percepatan transisi menuju energi baru terbarukan.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (13/3/2026).
“Menurut pendapat saya, krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Akhirnya kita dipaksa akselerasi,” kata Prabowo, dikutip Holopis.com, Sabtu (14/3/2026).
Menurut Presiden, Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai krisis global, sehingga diyakini mampu bertahan bahkan memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global saat ini.
Sebagai respons terhadap ancaman krisis energi dunia, pemerintah mendorong percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah strategis menuju swasembada energi.
Prabowo menegaskan bahwa kebijakan pengalihan sumber energi sebenarnya sudah lama dirancang. Namun situasi global saat ini membuat implementasinya harus dipercepat.
“Kita sudah tahu bahwa kita harus melakukan pengalihan energi ke energi terbarukan, ke energi yang kita miliki sendiri, kita sudah paham itu. Ini (krisis) mempercepat,” imbuh Prabowo.
Ia juga menyoroti keunggulan Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain yang kini mulai mengalami gangguan transportasi akibat krisis energi. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber energi alternatif yang melimpah dan beragam.
Beberapa di antaranya berasal dari pengolahan kelapa sawit menjadi solar dan etanol. Selain itu, komoditas seperti tebu, singkong, dan jagung juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol yang berpotensi menjadi pengganti bahan bakar bensin.
Di sektor energi bersih lainnya, Indonesia juga memiliki potensi besar dari sumber daya panas bumi serta tenaga air.
“Kita punya geotermal yang banyak, kita bisa pakai kekuatan air, hidro, mini hidro, banyak sekali,” jelas Prabowo.
Untuk mempercepat realisasi transformasi energi tersebut, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah konkret. Salah satu program besar yang tengah dipacu adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt.
Proyek ini diperkirakan membutuhkan lahan sekitar 100.000 hektare dan ditargetkan dapat selesai dalam dua tahun ke depan.
Pemerintah pun telah mengidentifikasi sejumlah potensi lahan yang bisa dimanfaatkan, termasuk sekitar 67.000 hektare di wilayah Jawa Barat serta lahan milik Perhutani di Pulau Jawa yang mencapai sekitar 800.000 hektare.
“Kita akan melaksanakan, kita akan melaksanakan pembangunan yang sangat cepat terhadap tenaga surya, yang kita rencananya kita akan melakukan 100 gigawatt, yang kita targetkan harus selesai dalam 2 tahun yang akan datang ini,” pungkas Prabowo.


