HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona merah pada akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,05 persen atau turun 224,91 poin ke level 7.137,21 pada Jumat (13/3/2026).
Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan pasar global dan kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG sudah bergerak di wilayah negatif. Indeks bahkan sempat mengalami volatilitas tinggi dan jatuh lebih dari 2 persen hingga menyentuh level terendah di 7.188,08 sebelum akhirnya menutup sesi pertama dengan koreksi 1,81 persen.
Tekanan jual terlihat sangat luas di pasar saham domestik. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 656 saham tercatat turun, sementara 113 saham berhasil menguat dan 189 saham tidak mengalami perubahan harga.
Aktivitas transaksi menjelang libur panjang Idulfitri juga terpantau relatif sepi. Nilai transaksi sepanjang perdagangan mencapai Rp14,02 triliun dengan volume 27,08 miliar saham dalam 1,58 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turut menyusut menjadi Rp12.678 triliun.
Beberapa saham berkapitalisasi besar menjadi motor transaksi terbesar hari ini. Saham Bank Mandiri mencatat nilai transaksi tertinggi sekitar Rp1,88 triliun, disusul saham Bumi Resources dengan transaksi sekitar Rp1,76 triliun.
Berdasarkan data Refinitiv, seluruh sektor di pasar saham Indonesia berada di zona merah. Sektor teknologi mencatat penurunan paling dalam sebesar 4,86 persen, diikuti sektor energi yang terkoreksi 3,37 persen serta sektor konsumer non-primer yang melemah 3,24 persen.
Beberapa emiten juga tercatat menjadi pemberat utama pergerakan indeks. Saham Dian Swastatika Sentosa menyumbang tekanan terbesar dengan bobot minus 30,7 indeks poin. Kemudian saham Amman Mineral Internasional berkontribusi minus 17,45 indeks poin dan DCI Indonesia sebesar minus 17,11 indeks poin.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar domestik. Bursa saham Asia juga bergerak melemah. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 1,16 persen, sementara KOSPI melemah 1,72 persen.
Kekhawatiran investor dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dikhawatirkan mengganggu pasokan energi global.
Situasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent crude oil menembus US$100,72 per barel, sementara West Texas Intermediate mencapai US$95,37 per barel.
Lonjakan harga minyak ini dipicu serangan terhadap dua kapal tanker serta fasilitas pelabuhan minyak di perairan Irak, yang memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pihak militer Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga US$200 per barel apabila konflik terus memanas dan jalur pasokan energi global terganggu.
Di tengah eskalasi konflik, intelijen Amerika Serikat menilai struktur kepemimpinan Iran masih stabil dan jauh dari risiko keruntuhan. Posisi pemimpin tertinggi disebut telah digantikan oleh Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, untuk menjaga stabilitas pemerintahan di Teheran.
Dalam pemaparan publik pertamanya, Mojtaba menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.


