Musim Kemarau 2026 Diprediksi Bakal Lebih Lama, Ini Daerah Paling Terdampak

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah mulai bersiap menghadapi ancaman musim kemarau 2026 yang diprediksi kemungkinan lebih panjang dari normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah rawan bencana seperti Sumatera dan Kalimantan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan OMC masih difokuskan di Riau dan Kalimantan Barat untuk mencegah serta membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pun, untuk wilayah Sumatera Utara juga masih diperlukan beberapa kali melakukan OMC untuk mengurangi hujan.

“Untuk yang di Riau itu kita menambah hujan agar dapat menjenuhkan tanah dan juga untuk meningkatkan kadar airnya agar dia lebih berkurang potensi mengalami karhutla,” kata Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Strategi ini dilakukan berbeda sesuai kondisi wilayah. Di Riau, hujan justru ditambah agar tanah lebih jenuh dan tidak mudah terbakar saat kemarau datang.

Langkah OMC seperti di Sumut dilakukan untuk mengurangi hujan karena sejumlah daerah masih terdampak banjir. Hal itu termasuk Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

- Advertisement -

BMKG mencatat pemantauan curah hujan intensif masih dilakukan setidaknya sepekan ke depan. Dalam periode itu, potensi hujan dengan intensitas tinggi masih mungkin terjadi di beberapa wilayah.

“Itu ketika masih ada awan yang bisa disemai, itu kita coba untuk memodifikasi cuaca agar ketika menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, kondisi sudah lebih basah, lebih jenuh,” ujar Faisal.

Tak hanya fokus pada respons jangka pendek, pemerintah juga bakal menggelar rapat koordinasi nasional. Langkah itu untuk perkuat antisipasi karhutla jelang musim kemarau.

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan mulai pada April. Menurut BMKG, titik kemarau diawali dari wilayah Nusa Tenggara, lalu meluas secara bertahap ke daerah lain.

Namun, yang jadi perhatian, durasi kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan kondisi normal di sebagian besar dari 400 zona musim (ZOM) di Indonesia.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli 2026 untuk sebagian Sumatera, Kalimantan bagian tengah dan utara. Lalu, sebagian kecil Jawa, sebagian Nusa Tenggara Barat dan Timur, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, Sulawesi Utara bagian barat, sebagian Maluku, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur.

Sementara wilayah lain diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026. Kondisi itu meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur. Selanjutnya, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku, Maluku Utara, hingga Pulau Papua.

Adapun daerah yang diprediksi memasuki puncak kemarau pada September 2026 antara lain sebagian Lampung. Kemudian, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian utara dan timur. Selanjutnya, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Papua.

Dengan proyeksi itu, BMKG mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor. Kesiapsiagan itu terkai ancaman Karhutla, kekeringan, hingga krisis air bersih yang berpotensi meningkat. Maka itu, penting dilakukan upaya mitigasi sejak dini.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU