HOLOPIS.COM, JAKARTA – Serangan besar Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran memicu perang terbuka yang mengguncang stabilitas regional dan pasar energi global. Iran tak tinggal diam dengan melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer di sejumlah negara Teluk.
Namun, yang jadi sorotan utama adalah omongan Presiden AS Donald Trump dengan menyiratkan bahwa serangan ke Iram itu terjadi setelah tekanan diplomatik dan strategi kompleks melibatkan Israel.
Trump mengatakan dirinya yang mungkin memaksa Israel melangkah untuk menyerang Iran. Omongan Trump itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz di Gedung Putih.
Trump mengakui kemungkinan bahwa tindakannya mungkin telah mendorong Israel untuk melancarkan serangan ke Iran.
“Saya mungkin telah memaksa tangan Israel,” kata Trump dalam konferensi pers dikutip dari The Jerusalem Post, Rabu, (4/3/2026).
Trump pun menjelaskan keputusannya yang melancarkan serangan gabungan bersama Israel ke Iran. Ia percaya Iran bakal menyerang lebih dulu jika AS tidak bergerak cepat. Dengan demikian, keputusan itu diambil untuk mencegah serangan terhadap pasukan AS dan sekutu.
Namun, klaim ini kemudian ditanggapi oleh sendiri Trump sebagai interpretasi atas strateginya.
Menurut pernyataan resmi, Trump menegaskan bahwa Israel tak memaksa AS secara langsung. Tapi, pemerintah AS mengambil keputusan berdasarkan intelijen yang menunjukkan ancaman agresi dari Iran.
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dinamakan media internasional sebagai Operation Lion’s Roar. Serangan awal AS-Israel itu dilakukan pada akhir Februari 2026.
Gelombang serangan udara dipimpin oleh Israel namun didukung oleh pasukan AS yang menyerang komando militer dan infrastruktur penting di Teheran dan kota-kota lainnya.
Imbas serangan brutal itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat militer Iran tewas.
Adapun dalam penjelasannya kepada wartawan AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan AS bertindak setelah mengetahui Israel bakal menyerang. Dia mengaku AS khawatir Teheran akan membalas dengan menargetkan pasukan Amerika di Kawasan Teluk. Maka itu, AS memutuskan serangan untuk melindungi sektor militer AS.
Rubio mengatakan tujuan serangan bukan semata-mata menggulingkan rezim Iran. Tapi, lebih menghancurkan kemampuan militer dan nuklir yang dianggap mengancam sekutu AS di kawasan serta kepentingan keamanan nasional AS.

