Tambahan Produksi OPEC+ Disebut Tak Cukup Redam Lonjakan Harga Minyak Akibat Konflik Iran

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Komitmen OPEC+ untuk menambah produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari (bph) mulai April 2026 dinilai belum mampu meredam gejolak harga minyak dunia yang terdorong konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz.

Analis sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo menilai peningkatan produksi tersebut hanya akan memberikan dampak yang terbatas.

“Menurut saya dengan peningkatan produksi minyak oleh negara-negara OPEC+, hanya akan jadi sentimen penekan harga minyak dalam jangka pendek saja,” kata Praska kepada wartawan, dikutip Holopis.com, Senin (2/3/2026).

Ia menambahkan, apabila eskalasi konflik Timur Tengah terus berlanjut dan risiko penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, tambahan pasokan dari OPEC+ tidak akan cukup menahan lonjakan harga.

“Tentu sepertinya dampak dari peningkatan produksi minyak oleh OPEC+ tidak cukup untuk menekan potensi kenaikan harga minyak,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan analis komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong. Menurutnya, langkah OPEC+ hanya memberi dampak minimal di tengah ancaman gangguan distribusi minyak global.

- Advertisement -

“Membantu, tetapi blm bisa menutupi kekurangan apabila Selat Hormuz tutup,” tuturnya.

Harga Minyak Melonjak

Pada Senin (2/3/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,07% ke level sekitar US$72,43 per barel. Sementara minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 12% menjadi US$81,37 per barel pada pukul 07.01 pagi waktu Singapura.

Sebelumnya, kelompok OPEC+ resmi melanjutkan peningkatan produksi dengan laju sedikit lebih cepat di tengah konflik yang dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran.

Anggota kunci yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia akan menambah 206.000 bph mulai April, berdasarkan keputusan dalam konferensi video bulanan pada Minggu (1/3/2026).

Angka tersebut sekitar 1,5 kali lebih besar dibanding peningkatan 137.000 bph pada Desember 2025. Meski demikian, sejumlah produsen disebut memiliki kapasitas terbatas untuk menaikkan produksi lebih lanjut.

Kepala analisis geopolitik Rystad Energy AS, Jorge Leon menilai keputusan OPEC+ lebih bersifat simbolis ketimbang solusi konkret.

“Langkah ini kemungkinan tidak akan menenangkan pasar — ini adalah sinyal, bukan solusi,” kata Leon.

“Anda dapat mengumumkan peningkatan produksi, tetapi jika kapal tanker menghadapi kendala di Hormuz, pasar fisik tetap ketat.”

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak global. Jika gangguan berkepanjangan terjadi di kawasan tersebut, risiko pembatasan ekspor dari negara-negara Teluk berpotensi memperparah tekanan harga minyak dunia.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU