HOLOPIS.COM, JAKARTA – Halo, Sobat Holopis! Pernahkah kalian mendengar seruan lantang yang membakar semangat saat sekelompok orang sedang bergotong royong menarik beban berat?.
Pekikan “Holopis Kuntul Baris” bukan sekadar bising tanpa makna, melainkan sebuah mantra sosiologis yang telah mendarah daging dalam sumsum tulang bangsa Indonesia.
Kalimat ini adalah simbol harmoni antara raga yang berkeringat dan jiwa yang bersatu, sebuah warisan luhur yang mendefinisikan siapa kita sebenarnya di tengah gempuran zaman yang semakin individualis.
Akar Sejarah dan Filosofi Gerak
Secara etimologis, banyak pemerhati budaya meyakini bahwa Holopis Kuntul Baris berakar dari dialek Jawa, meski pengaruh serapan bahasa asing pada masa kolonial juga kerap diperdebatkan.
Kata Kuntul Baris merujuk pada kawanan burung kuntul (bangau putih) yang terbang bermigrasi dalam barisan yang rapi dan teratur. Fenomena alam ini mengajarkan kita tentang kedisiplinan dan kepemimpinan; mereka terbang bersama, memecah angin bersama, dan tidak ada yang tertinggal.
Sementara itu, Holopis sering dimaknai sebagai aba-aba untuk mengerahkan tenaga secara serentak. Gabungan kalimat ini menciptakan sebuah ritme kerja yang mengubah beban mustahil menjadi ringan karena dipikul oleh banyak pundak dalam satu waktu yang sama.
Warisan Bung Karno dan Gelora Nasionalisme
Kepopuleran kalimat ini mencapai puncaknya berkat sang Proklamator, Ir. Soekarno. Bung Karno sering kali memekikkan “Holopis Kuntul Baris” dalam pidato-pidatonya untuk membakar semangat rakyat.
Bagi beliau, kalimat ini adalah kristalisasi dari konsep Gotong Royong, yang ia sebut sebagai jiwa murni bangsa Indonesia.

Inilah mengapa kalimat ini begitu populer: ia bukan hanya soal memindahkan batu atau menarik tali, tapi soal memindahkan nasib bangsa dari ketertinggalan menuju kejayaan melalui solidaritas total.
Relevansi bagi Jati Diri Bangsa Saat Ini
Di era digital sekarang, Sobat Holopis mungkin jarang melihat orang menarik kayu besar di jalanan, namun esensi “Kuntul Baris” justru semakin krusial.
Rasa nasionalisme dan patriotisme modern tidak lagi diuji dengan angkat senjata, melainkan dengan bagaimana kita menjaga keutuhan sosial di tengah perbedaan pendapat. Seruan ini mengingatkan kita bahwa kekuatan Indonesia bukan terletak pada individu-individu yang cerdas secara mandiri, melainkan pada kolektivitas yang harmonis.
Solidaritas adalah benteng terakhir kita; ketika satu anggota barisan goyah, yang lain menopang. Menghayati filosofi ini berarti kita sepakat untuk menanggalkan ego demi kepentingan yang lebih besar, yakni martabat negara di mata dunia.
Catatan Berharga: “Holopis Kuntul Baris” adalah pengingat bahwa tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki jika kita melangkah dalam irama yang sama.
Mari kita jaga api semangat ini tetap menyala dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat. Menjadi pribadi yang patriotis berarti menjadi pribadi yang siap sedia mengulurkan tangan bagi sesama, persis seperti barisan kuntul yang terbang gagah melintasi cakrawala.

