HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang membongkar deretan tiang pancang monorel mangkrak dinilai sudah benar. Keberadaan 109 tiang monorel itu merusak estetika Jakarta.
Demikian disampaikan Gubernur ke-12 DKI Jakarta, Sutiyoso. Dia pun mengapresiasi keputusan Pemprov DKI dalam menyelesaikan persoalan tiang monorel yang bertahun-tahun mangkrak.
“Selama puluhan tahun, tiang monorel ini terbengkalai dan merusak estetika kota. Hanya ada dua pilihan, dilanjutkan atau dibongkar,” kata Sutiyoso dikutip dari laman resmi Pemprov DKI, Kamis, (15/1/2026).
Menurut dia, tiang monorel yang mangkrak itu bagus dibongkar karena bisa beri kepastian untuk Jakarta.
“Dan itu, merupakan keputusan yang tepat karena memberi kepastian bagi Jakarta,” lanjut Sutiyoso.

Dia memaparkan awalnya proyek monorel dibangun dengan rancangan konsep sistem transportasi makro Jakarta. Dengan konsep itu bisa membangun transportasi yang terintegrasi dengan MRT, busway, dan moda transportasi lainnya.
Tapi dalam perkembangannya, kebijakan merancang monorel itu stagnan hingga berujung terbengkalai.
Lebih lanjut, dia menilai positif aksi pendampingan aparat penegak hukum dalam proses penataan. Pun, ia menyampaikan saat ini yang terpenting mengajak masyarakat untuk mendukung kelanjutan penataan Jalan HR Rasuna Said.
“Dengan dukungan semua pihak, penataan ini diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur eks Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu.
Proyek penataan Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan sisi timur ini dikerjakan Dinas Bina Marga Provinsi DKI. Pembongkaran tiang monorel dilakukan secara bertahap pada malam hari tanpa penutupan jalan.
Pemprov DKI juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Polda Metro dalam rekyasa lalu lintas. Penataan kawasan Rasuna Said ditargetkan rampung pada September 2026.


