HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dampak child grooming tidak selalu langsung terlihat setelah kejadian terjadi. Psikolog Klinis Sri Mulyani Nasution menjelaskan bahwa efek dari manipulasi dan kekerasan psikologis ini kerap muncul berlapis, menetap, dan bahkan baru disadari korban bertahun-tahun kemudian.
Sri Mulyani menegaskan bahwa grooming bukan hanya peristiwa sesaat, melainkan proses yang meninggalkan jejak mendalam dalam perkembangan psikologis, relasi sosial, hingga pembentukan identitas korban.
1. Dampak Psikologis
Menurut Sri Mulyani, salah satu dampak paling umum adalah trauma kompleks atau complex trauma. Kondisi ini muncul akibat pengalaman manipulasi yang berulang dan berlangsung lama.
Selain itu, korban juga berisiko mengalami kecemasan kronis dan depresi. Dalam banyak kasus, korban menunjukkan gejala disosiasi, yakni perasaan terputus dari emosi, tubuh, atau realitas sekitarnya.
“Rasa bersalah dan malu yang muncul sering kali tidak rasional, tetapi sangat kuat dirasakan korban,” jelas Sri Mulyani, kepada Holopis.com, Kamis (15/1).
2. Dampak Relasional
Pada aspek relasi sosial, korban child grooming kerap mengalami kesulitan mempercayai orang lain. Pola hubungan yang terbentuk pun cenderung tidak sehat, karena pengalaman masa lalu memengaruhi cara korban memaknai kedekatan.
Sri Mulyani menyebut kebingungan batas pribadi menjadi salah satu dampak yang paling sering muncul. Korban kesulitan membedakan mana relasi yang aman dan mana yang bersifat manipulatif.
3. Dampak pada Identitas dan Harga Diri
Dampak lain yang tak kalah serius adalah terganggunya pembentukan identitas diri. Banyak korban tumbuh dengan self-worth yang bergantung pada validasi orang lain.
Korban juga kerap mengalami kebingungan antara kasih sayang dan eksploitasi.
“Yang paling menyakitkan, korban sering tidak menyadari dirinya korban, bahkan bertahun-tahun kemudian,” ungkap Sri Mulyani.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami atau Mencurigai Grooming?
Sri Mulyani menekankan bahwa pencegahan dan penyelamatan bisa dilakukan jika sinyal-sinyal awal dikenali dengan baik.
Jika Terjadi pada Diri Sendiri atau Anak
Langkah pertama adalah mempercayai rasa tidak nyaman. Menurut Sri Mulyani, perasaan tersebut merupakan sinyal penting, bukan drama berlebihan.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada anak yang “menggoda” atau “terlalu dewasa”. Tanggung jawab selalu berada pada orang dewasa. Korban atau keluarga diimbau untuk segera bercerita kepada orang dewasa tepercaya atau profesional.
Jika Terjadi pada Orang Sekitar
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain perubahan perilaku yang mendadak, ketergantungan emosional pada satu figur dewasa tertentu, kecenderungan menyimpan banyak rahasia, serta menarik diri dari keluarga atau teman.
Langkah Konkret yang Bisa Dilakukan
Sri Mulyani menekankan pentingnya pendekatan yang tepat saat menghadapi dugaan grooming. Langkah awal adalah tidak menyalahkan korban dalam kondisi apa pun.
Perilaku mencurigakan perlu didokumentasikan, kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang atau layanan perlindungan anak. Ia juga menyarankan untuk segera melibatkan psikolog atau konselor profesional agar korban mendapatkan pendampingan yang aman dan tepat.
Kesadaran, kepekaan lingkungan, serta keberanian untuk bertindak menjadi kunci utama dalam memutus rantai child grooming dan melindungi anak-anak dari dampak jangka panjang yang merusak.


