HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan kesiapan PBB untuk menyediakan jasa baik guna mendukung kemungkinan dialog nasional yang inklusif di Venezuela. Pernyataan itu disampaikan melalui juru bicara PBB pada Rabu (7/1), sebagai respons terhadap eskalasi situasi politik dan militer di negara Amerika Selatan tersebut.
Berbicara kepada wartawan dalam taklimat harian, jubir Stephane Dujarric mengatakan bahwa Guterres baru saja mengakhiri pertemuan sekitar 45 menit dengan Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada.
“Dalam pertemuan tersebut, sekjen menegaskan kembali posisinya yang telah disampaikan secara terbuka mengenai aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela,” ujar Dujarric, dikutip Holopis.com, Kamis (8/1).
Guterres sebelumnya telah menyampaikan kekhawatirannya atas eskalasi ketegangan di Venezuela, terutama dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada Senin (5/1). Pernyataan yang dibacakan atas namanya oleh Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Politik, Rosemary DiCarlo, menyatakan keprihatinan mendalam terkait kemungkinan meningkatnya instabilitas internal di Venezuela dan dampaknya terhadap kawasan regional.
Lebih jauh lagi, Guterres juga menyebut bahwa tindakan militer tersebut bisa menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan antarnegara.
“Saya tetap sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional tidak dihormati sehubungan dengan aksi militer pada 3 Januari,” kata Guterres dalam pernyataannya.
Aksi militer yang dimaksud terjadi pada 3 Januari, ketika pasukan militer AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Venezuela dan secara paksa membawa Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya ke New York.
Tindakan ini memicu kecaman luas dari berbagai negara dan organisasi internasional, serta memicu perdebatan mengenai prinsip kedaulatan, hukum internasional, dan penyelesaian damai.

