HOLOPIS.COM, SUMUT – Saat kebanyakan kota sibuk memasang lampu berkelap-kelip, Pematangsiantar memilih jalur yang berbeda meledakkan kreativitasnya. Pada Sabtu, 13 Desember 2025, jalanan kota itu disulap menjadi panggung megah untuk festival tahunan Bagak Marnatal, sebuah perayaan menjelang Natal yang jauh dari kata biasa.
Bukan hanya sekadar pawai, event ini adalah karnaval gila-gilaan yang melibatkan ratusan seniman lokal, komunitas kreatif lintas generasi, dan tentu saja, para pedagang UMKM. Aroma kue Natal beradu dengan suara paduan suara, sementara langkah kaki peserta pawai mengiringi dentuman musik flashmob di Lapangan SMA YP HKBP 1. Pematangsiantar benar-benar all out.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, bahkan tak bisa menahan pujiannya, menyebut Bagak Marnatal sebagai panggung besar bagi ekosistem ekonomi kreatif.
“Ini bukan cuma festival Natal, ini adalah mesin turbo baru yang dipasang di roda ekonomi nasional, dan start-nya dari daerah,” ujar Menteri Riefky dengan nada optimistis.
Sekali lagi, festival ini bukan hanya tentang lagu-lagu Natal, Bagak Marnatal menyajikan menu yang super kreatif. Acara utama dimulai dengan rangkaian Talkshow Seni dan Kuliner, yang menjadi tempat para creator lokal berbagi resep rahasia dan trik artistik.
Selanjutnya, ada Festival Paduan Suara, ajang adu merdu yang membuat suasana makin damai, dan pertunjukan Flashmob Komunitas, sebuah ledakan energi yang melibatkan semua orang, membuktikan bahwa kolaborasi adalah kredo Pematangsiantar.
Acara puncaknya yakni Fashion Show ‘Marabit’. Istilah lokal yang berarti “terpisah” atau “berbeda” ini benar-benar membawa definisi baru pada busana Natal. Bayangkan perpaduan kain tradisional Batak dengan sentuhan modern yang dikenakan di catwalk jalanan.
Mengusung tema ‘Berkat Natal untuk Semua’, festival ini secara implisit menyampaikan pesan bahwa toleransi dan aktivitas keagamaan bisa berjalan seiringan dengan perputaran roda ekonomi. Para pegiat ekraf membuktikan bahwa ruang terbuka adalah etalase terbaik untuk menunjukkan potensi dagang dan kreasi mereka.
“Saatnya jadikan Pematangsiantar sebagai kota yang tidak hanya toleran, tetapi juga produktif dan kreatif,” tegas Menteri Riefky, memberikan tantangan sekaligus harapan.
Tak hanya euforia, acara ini juga berakhir dengan sentuhan kemanusiaan. Akhir acara diisi dengan penyerahan donasi bagi para penyintas bencana banjir yang terdampak, menjadikan perayaan ini benar-benar membawa ‘berkat’.
Para pentolan daerah tampak hadir memeriahkan, termasuk Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, Ketua DPRD Timbul Lingga, hingga Kapolres AKBP Sah Udur Sitinjak, menunjukkan bahwa semangat kreatif ini didukung penuh dari hulu ke hilir.


