Restorasi Jiwa Indonesia tentang Generasi Z : Kaum Rapuh Tapi Potensial

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI), Syam Basrijal memandang bahwa Generasi Zoomer (Gen Z) memiliki pola tumbuh yang unik. Di mana mereka menjadi generasi yang paling dekat dengan layar dan media sosial.

Generasi Z adalah generasi pertama yang benar-benar tumbuh bersama layar. Sejak kecil, mereka disambut oleh notifikasi, video pendek, dan dunia tanpa batas yang bernama internet,” kata Syam Basrijal kepada Holopis.com, Minggu (7/12/2025).

- Advertisement -

Karena generasi ini sangat cepat terpapar informasi dari berbagai sudut, sehingga pola pikir mereka pun cenderung lebih kompleks. Bahkan kalangan Gen Z tersebut menurut Syam, lebih cerdas, kreatif, dan adaptif dengan lingkungan.

“Mereka hidup di dua dunia sekaligus. Dunia nyata yang penuh tuntutan, dan dunia digital yang penuh perbandingan,” ujarnya.

- Advertisement -

Sayangnya, karena berada di antara dua dunia yang ia maksud, Syam menyebut jika kaum Gen Z memiliki kecenderungan mental yang rentan dan labil. Ruang batin mereka mudah sekali terombang ambing dan terdistraksi dengan input yang mereka terima.

“Di tengah dua dunia itu, kesehatan mental mereka sering kali menjadi korban yang paling diam,” sambung Syam.

Di samping itu, kondisi kehidupan kalangan ini pun cenderung dipengaruhi oleh validitas di media sosial. Seberapa banyak orang memberika tanda hati atau menekan tombol jempol di postingan mereka, termasuk apakah ada orang yang peduli dengan mereka dalam wujud komentar di akun media sosial.

“Setiap like terasa seperti tepukan di bahu. Setiap komentar menyenangkan seperti pelukan kecil. Tetapi ketika angka itu turun, komentar sepi, atau dibandingkan dengan teman yang lebih populer, muncul bisikan halus dalam batin; Apa aku kurang?,” tuturnya.

Situasi itulah yang disebut Syam Basrijal sebagai sebuah paradoks Gen Z. Di mana media sosial membuka ruang ekspresi, akan tetapi sekaligus memperbesar ruang perbandingan bagi kalangan masyarakat di era Generasi Z tersebut. Di balik konten yang tampak ceria, banyak jiwa muda yang sedang memikul cemas, merasa tidak cukup, dan lelah menyenangkan semua orang.

Parahnya lagi, fenomena Gen Z ini pun akhirnya dijadikan sebuah peluang oleh para pemilik platform. Salah satunya dengan menerapkan algoritma yang bisa mempengaruhi citra visual dan alam bawah sadar kelompok masyarakat tersebut. Akibatnya, muncul istilah FOMO (fear of missing out) yang membuat Gen Z akan sangat sulit lepas dari gadget, khawatir ketinggalan trend dan berita terbaru.

“Media sosial tidak netral. Di balik layar, ada algoritma yang bekerja: mengatur apa yang kita lihat, apa yang sering muncul, apa yang terus muncul bahkan ketika kita ingin berhenti,” jelas Syam Basrijal.

Dengan demikian, Syam Basrijal bisa menarik benang merah bahwa Gen Z akan berpikir sangat kompleks dan cenderung realistis, dan semua itu dipengaruhi oleh derasnya arus informasi sebagai bahan pembanding mereka dalam mengambil sikap, langkah, dan keputusan dalam hidup.

Lantas bagaimana cara menyikapi Gen Z, Syam Basrijal memiliki 4 (empat) poin penting. Pertama adalah, Generasi Z merupakan orang yang sebenarnya sangat ingin didengar keluh kesahnya tanpa harus menghakimi mereka. Yang kedua adalah perlu dibangun kesadaran tentang ambang batas sehat berinteraksi dengan dunia digital dan media sosial.

Ketiga adalah memberikan ruang yang aman bagi mereka yang sedang terpuruk mentalnya, sehingga ada ruang yang baik untuk mereka bisa pulih. Dan yang keempat adalah peran aktif keluarga untuk bisa berinteraksi dan berkomunikasi secara baik, termasuk di lingkungan rumah, pendidikan, maupun lingkungan.

Generasi Z bukan masalah. Mereka adalah cermin. Di wajah mereka, kita melihat betapa cepat perubahan dunia, betapa rapuhnya pondasi sosial dan emosional yang kita bangun bersama.

“Generasi Z membawa luka, tetapi juga potensi yang luar biasa. Dengan pendampingan yang tepat, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang paling sadar, paling reflektif, dan paling berani mengakui keterbatasan manusia – sekaligus tetap melangkah,” pungkasnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru