HOLOPIS.COM, JAKARTA – Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menanggapi pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X mengenai pentingnya memahami generasi muda di tengah perubahan zaman.
Melalui video podcast di kanal YouTube Mahfud MD Official, ia menekankan bahwa setiap generasi memiliki cara berpikir, teknologi, dan kebutuhan hidup yang berbeda sesuai konteks zamannya.
“Ya yang mungkin pertama dari keseluruhan itu, zaman berubah, kemudian kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga berubah. Tuntutan merespons perkembangan juga berubah. Sehingga kita semua harus sadar bahwa antar generasi itu biasanya persepsi tentang sesuatu dan sikap batin tentang sesuatu itu berbeda,” ujar Mahfud MD dalam podcast tersebut, dikutip Holopis.com.
Mahfud menyebut pandangan Sri Sultan HB X sebagai refleksi penting dalam memahami dinamika sosial generasi muda masa kini. Menurutnya, masyarakat dari generasi terdahulu perlu menghindari sikap memaksakan nilai atau pola pikir lama kepada generasi baru yang hidup di era digital.
“Nah, oleh sebab itu, seperti dikatakan oleh Sultan, kita harus memahami dan jangan memaksakan kehendak kita kepada generasi baru. Mereka punya alamnya sendiri, punya teknologinya sendiri. Misalnya, gak bisa kita paksakan seperti zaman kita dulu,” tegas Mahfud.
Ia menambahkan bahwa generasi muda tetap perlu mendapat bimbingan moral dan nilai-nilai budaya, namun dengan cara yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Kita harus biarkan mereka berkembang sesuai dengan kebutuhan zamannya. Tapi kita juga bisa memberikan nilai-nilai yang bisa diwariskan kepada mereka. Ini penting, karena terkadang orang memandang sesuatu hanya dari kacamatanya sendiri,” lanjutnya.
Sebelumnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sebuah dialog menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menghargai generasi muda dan membuka ruang dialog antargenerasi.
“Kita pun harus bisa memahami dan optimis. Jangan hanya menyalahkan anak-anak muda sekarang, tapi bisa nggak kita juga menghargai mereka? Bahwa mereka punya pendidikan yang bagus, dan di situ justru akan terjadi dialog,” ujar Sultan.
Ia juga menyoroti perubahan nilai dalam masyarakat modern yang kini memasuki era industrialisasi.
“Sekarang kita memasuki dunia dengan etika industrialisasi, sehingga kita perlu menafsirkan kembali kalimat harmoni. Dulu harmoni itu artinya semua harus sama pola pikirnya, yang berbeda dianggap ekstrem. Tapi sekarang maknanya harus lebih terbuka,” ungkapnya.


