HOLOPIS.COM, JAKARTA — Di tengah hingar-bingar evaluasi satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, sebuah sektor yang selama ini dianggap lunak tiba-tiba menyodorkan kontribusi yang keras dan solid bagi perekonomian nasional.
Menteri Ekonomi Kreatif (Menteri Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menjadi bintang dalam diskusi panel ‘1 Tahun Prabowo–Gibran’ di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan.
Ia memaparkan data yang menempatkan Ekraf sebagai motor devisa yang inklusif, terutama karena ia adalah penampung utama 26,5 juta tenaga kerja, yang mayoritasnya adalah kalangan muda dan perempuan.
Dalam paparannya di acara bertajuk ‘Ekspor-Impor: Dinamika Kunci Pertumbuhan Ekonomi’, Menteri Teuku Riefky mengungkapkan bahwa ide dan kreativitas kini bernilai miliaran dolar.
“Nilai ekspor dari sektor ekonomi kreatif pada akhir tahun 2024 mencapai sekitar 25 miliar dolar AS, setara kurang lebih Rp 400 triliun,” ujar Teuku Riefky, Kamis (16/10/2025).
Angka tersebut mencengangkan, karena menyumbang lebih dari 9% terhadap total ekspor nasional, membuktikan bahwa karya anak bangsa memiliki daya saing global.
Tak berpuas diri, Kementerian Ekraf memasang target yang terus menanjak yaitu dari $25 miliar di 2024, ditargetkan menjadi $26 miliar di 2025, dan melonjak hingga $28 miliar (sekitar Rp 450 triliun) pada 2026.
Dukungan finansial terhadap Ekraf pun menunjukkan tren positif. Hingga pertengahan 2025, total investasi telah mencapai Rp 90 triliun, menembus 66% dari total target tahunan.
Subsektor yang menjadi penopang utama pertumbuhan ini adalah empat serangkai yang bersentuhan langsung dengan gaya hidup dan teknologi yaitu aplikasi, fesyen, kuliner, dan kriya.
“Sektor ini bukan hanya memperkuat kelas menengah, tetapi juga membuka lapangan kerja yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi serta tren global,” tegasnya,
Di sisi lain, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengakui bahwa pabrik manufaktur masih menjadi tulang punggung ekspor, menyumbang lebih dari 70% total ekspor.
Namun, ia menyoroti bahwa dalam setahun terakhir, sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan elektronik justru tumbuh paling pesat.
“Sektor yang paling tumbuh pesat untuk 1 tahun terakhir ini terutama yang liberal intensif ya tekstil dan juga elektronik yang sekarang tumbuh… bahkan investasi pada sektor tekstil menunjukkan banyak investor luar melakukan relokasi di sektor ini,” jelas Wamenperin Faisol.
Kedua pandangan dari Ekraf dan Manufaktur ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kini ditopang oleh dua pilar kuat: keandalan industri tradisional dan kelincahan inovasi kreatif.
Acara panel ini turut dihadiri oleh Direktur Program dan Kebijakan PRASASTI Piter Abdullah Redjalam, Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti, dan Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia Benny Soetrisno.


