HOLOPIS.COM, JAKARTA – Masyarakat Jawa menyimpan banyak legenda dengan nuansa spiritual yang kuat, salah satunya adalah kisah Ninik Towok atau dikenal juga sebagai Nini Thowong.
Dalam tradisi lisan, ia bukan sekadar boneka permainan, melainkan simbol hubungan manusia dengan dunia gaib. Hingga kini, sosoknya tetap menjadi bagian dari ritual dan kisah mistik yang diwariskan lintas generasi.
Beberapa sumber mencatat, tradisi ini telah ada sejak masa kerajaan Mataram. Nama “Towok” merujuk pada wajah yang pucat atau bersih seolah bercahaya, sedangkan “Nini” berarti perempuan tua atau figur leluhur.
Meski berwujud boneka, masyarakat Jawa meyakini bahwa Ninik Towok bisa “dihidupkan” melalui ritual tertentu.
Dari Upacara Ritual hingga Cerita Modern

Boneka Ninik Towok dibuat dari bahan-bahan alami: tempurung kelapa untuk kepala, rangka bambu sebagai tubuh, lalu dihias dengan kain, baju wanita, dan selendang. Tradisi ini dulu digunakan dalam upacara untuk memohon hujan, mencari benda hilang, atau berkomunikasi dengan roh leluhur.
Dalam beberapa daerah, prosesi itu dilakukan di bawah cahaya bulan purnama dengan mantra dan musik tradisional yang berirama monoton.
Seiring waktu, makna sakralnya bertransformasi. Kini, Ninik Towok lebih sering ditampilkan sebagai bagian dari pertunjukan budaya atau ritual simbolik.
Di sejumlah desa budaya di Yogyakarta dan Jawa Tengah, boneka ini menjadi bagian dari atraksi wisata spiritual yang menarik minat banyak pengunjung.
Legenda yang Beradaptasi dengan Zaman
Popularitas Ninik Towok kembali mencuat ketika kisahnya diangkat ke layar lebar lewat film horor berjudul “Nini Thowok” pada 2018.
Film tersebut menggambarkan bagaimana tradisi lama dan kepercayaan lokal berpadu dalam kisah mistik modern. Lokasi pengambilan gambarnya meliputi Yogyakarta, Solo, dan Klaten—daerah yang dikenal lekat dengan budaya kejawen.
Meski sebagian orang menganggapnya sekadar mitos, Ninik Towok tetap menjadi simbol kearifan lokal Jawa. Ia mengingatkan bagaimana masyarakat dahulu melihat dunia spiritual sebagai bagian dari keseharian.
Kini, kisah itu bertahan bukan karena rasa takut, melainkan rasa hormat terhadap akar budaya yang tak lekang waktu.


