Suara Harapan Warga Gaza Saat Perundingan Hamas–Israel di Mesir: “Kami Ingin Hidup Damai”

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Warga di Jalur Gaza kini menggantungkan harapan besar pada hasil perundingan antara Hamas dan Israel yang digelar di Kota Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin (6/10). Setelah dua tahun lebih hidup di bawah bayang-bayang perang, masyarakat Gaza berharap negosiasi kali ini bisa menjadi titik akhir dari penderitaan mereka.

“Kami sudah lelah dengan perang berkepanjangan yang menghancurkan rumah, rumah sakit, dan sekolah. Tidak ada tempat aman bagi siapa pun. Anak-anak bahkan tidak tahu apa itu ketenangan,” ungkap Ismail Abu Shar, warga Deir al-Balah, Gaza tengah, kepada Xinhua yang dikutip Holopis.com dari Antara, Selasa (7/10/2025).

- Advertisement -

Abu Shar menuturkan, wilayahnya sudah berbulan-bulan tanpa listrik, air bersih, dan bahan bakar akibat serangan bertubi-tubi. “Hidup seperti perjuangan setiap hari. Kami menunggu kabar damai seperti orang tenggelam menunggu pelampung,” ujarnya lirih.

Nada serupa datang dari Mohammed Rabie, warga Khan Younis di Gaza selatan. Ia menegaskan bahwa seluruh penduduk mendukung penuh gencatan senjata permanen. “Kami hanya ingin sedikit stabilitas dan martabat kembali. Setelah semua kehancuran ini, kesepakatan tanpa rekonstruksi tidak akan cukup,” katanya.

- Advertisement -

Sementara itu, Ahmed Abdel Aal, warga Gaza City yang kini mengungsi di Deir al-Balah, mengaku nyaris setiap keluarga kehilangan anggota. “Kami menatap berita negosiasi di Mesir dari menit ke menit, berharap ada hasil nyata yang menghentikan pertumpahan darah. Kami ingin pulang ke rumah dan hidup damai,” tuturnya.

Perundingan Hamas–Israel di Mesir kali ini dimediasi oleh Kairo dengan dukungan Amerika Serikat dan Qatar. Delegasi Hamas dipimpin oleh pejabat senior Khalil al-Hayya, yang disebut telah menggelar pertemuan awal dengan intelijen Mesir untuk membahas mekanisme pelaksanaan kesepakatan.

Hamas meminta jaminan agar Israel benar-benar mematuhi hasil perundingan, terutama terkait penghentian operasi militer, pembebasan tahanan, dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan. Namun, keraguan masih membayangi, terutama karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuntut Hamas melucuti senjatanya terlebih dahulu.

Di tengah diplomasi yang berjalan, serangan udara Israel ke Gaza belum juga berhenti. Otoritas kesehatan Gaza mencatat 21 orang tewas dan 96 luka-luka hanya dalam 24 jam terakhir. Total, perang sejak Oktober 2023 telah menelan lebih dari 67 ribu korban jiwa dan melukai 169 ribu orang lainnya.

Meski darah masih tertumpah, masyarakat Gaza tetap menggantungkan harapan pada satu kata damai.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru