Hensa : Ketidakhadiran Wapres Gibran saat Reshuffle Justru Strategi Populeritas di Publik

0 Shares

JAKARTA – Analis komunikasi politik Hendri Satrio atau akrab disapa Hensa menilai, bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bisa melakukan berbagai kesibukan yang menguntungkan dirinya sendiri, meskipun seringkali tidak banyak yang terekspos oleh publik.

“Menurut pandangan politik gua ini Wapres dia bisa gitu melakukan kesibukan-kesibukan yang menguntungkan buat dirinya walaupun dia sering sekali tidak terpapar,” ujar Hendri saat berdiskusi dengan Bivitri Susanti, seperti dikutip Holopis.com dalam kanal YouTube Hendri Satrio Official, Senin (29/9).

- Advertisement -

Lantas ia mengatakan ketidakhadiran Gibran dalam kesempatan acara di pemerintahan, seperti pada saat reshuffle Kabinet Merah Putih itu merupakan strategi untuk meningkatkan popularitas dirinya di muka publik.

“Jadi, gua pernah bilang ke banyak orang bahwa ketidakhadiran Wapres ini adalah cara Wapres untuk membuat dirinya populer,” tuturnya.

- Advertisement -

Menurutnya, ketidakhadiran Gibran tersebut justru menjadi sorotan publik yang lebih besar dibandingkan saat ia hadir. Sehingga, kata dia, fenomena inilah yang membuat namanya semakin populer dan menjadi bahan perbincangan masyarakat.

“Karena pada saat dia tidak hadir itu lebih banyak diomongin publik daripada dia hadir. Lu sadar enggak sih misalnya dia enggak ada di kabinet, itu malah populer dia. Mana nih? Mana nih?,” ujarnya.

Ia menganggap kehadiran Wakil Presiden dalam kabinet adalah hal yang wajar dan biasa saja, karena memang sudah menjadi tugas dan posisinya sebagai seorang Wakil Presiden.

Pun demikian, Hensa menegaskan bahwa ihwal ini hanyalah sebuah dugaan yang berasal dalam perspektifnya.

“Tapi kalau dia ada kan ah biasalah Wapres ada kabinet ya biasa. Jadi itu hipotesa gua,” tegasnya.

Selain itu, ia mengungkapkan, anak sulung Presiden ke-7 itu akan lebih menikmati ketika tidak hadir dalam acara kenegaraan tersebut.

“Jadi menurut gua dia tuh akan lebih menikmati pada saat ada undangan kenegaraan dia enggak ada,” jelasnya.

Di sisi lain, ia juga pernah bergurau terkait dengan perbedaan pakaian yang dikenakan Wapres itu dengan yang dipakai oleh pejabat lain saat acara Maulid Nabi.

“Makanya gua berseloroh sih yang dia pakai batik yang lain pakai baju putih di Maulid Nabi. Akhirnya kan kita ngomongin tuh publik banyak ngomongin ya,” terangnya.

Hensa pun mengingatkan kepada seluruh elemen untuk berhati-hati terhadap fenomena seperti ini.

Sebab kata dia, Gibran bisa saja membuat pernyataan di media sosial dengan mengatakan bahwa dirinya selama ini dizalimi, yang membuat Wapres tersebut dapat menjadi Presiden karena pernyataannya itu.

“Maksud gua gua ngingetin juga jadi ketidakhadiran Wapres ini ya memang harus berhati-hati karena dia justru lebih sering diomongin dan lebih populer saat dia enggak ada,” ungkapnya.

“Lu bayangin aja ujungnya dia tinggal tweet “gua selama ini dizalimi”. Oh Presiden dia,” tutupnya.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru