Aniwayang Jembatan Budaya untuk Generasi Z dan Alpha

0 Shares

JAKARTA – Perhelatan seni pertunjukan yang tak biasa terjadi di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta pada Sabtu (13/09).

Aniwayang, sebuah inovasi karya dari Desa Timun, berhasil memukau penonton dengan perpaduan unik antara wayang kulit tradisional dan sentuhan modern yang lebih akrab dengan anak muda.

- Advertisement -

Acara ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar, yang melihatnya sebagai langkah penting dalam melestarikan budaya.

“Ini keren dan gokil habis! Wayang dikemas seimut ini membuat anak-anak merasakan keajaiban budaya kita. Ini warisan yang ditampilkan dengan cara berbeda,” kata Wamen Ekraf Irene Umar mengungkapkan kekagumannya terhadap pertunjukan tersebut.

- Advertisement -

Ia menambahkan bahwa pendekatan interaktif Aniwayang menjadi cara efektif untuk memperkenalkan seni budaya kepada generasi muda.

Pengalaman Berbeda dari Sekadar Tontonan

Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya, Aniwayang menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif dan segar.

Dengan mengusung tema ‘Kenalan Yuk’, pertunjukan ini memperkenalkan karakter-karakter lucu dari Desa Timun seperti Cila, Cili, Cilo, dan Ayam.

Ada lima dalang yang tampil serentak, yaitu Daud Nugraha, Ricca Nugraha, Hiro Nugraha, Carmen Nugraha, dan Nasya Hikari, yang berhasil membuat suasana menjadi meriah dan menarik bagi sekitar 150 penonton dari berbagai kalangan usia.

Daud Nugraha, kreator Aniwayang, menjelaskan bahwa karyanya lahir dari keinginan untuk menjadikan wayang sebagai jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan budaya tradisional.

“Kami berharap, lahir generasi yang kreatif, bercerita, dan berbudaya,” ujarnya. Ia juga membedakan antara versi digital di YouTube dan pertunjukan langsungnya.

Jika di platform digital penonton hanya bisa menikmati tayangan, pertunjukan langsung Aniwayang menghadirkan nuansa layaknya pagelaran wayang kulit tradisional dengan interaksi penonton, kehadiran dalang, musik, hingga permainan khusus untuk keluarga.

Kehadiran Aniwayang membuktikan bahwa seni tradisional dan inovasi bisa berjalan seiringan. Dengan pendekatan yang lebih modern, seni wayang kulit mampu kembali hidup di tengah masyarakat, terutama di hati generasi muda, tanpa kehilangan esensi aslinya.

Pertunjukan ini menjadi contoh nyata bagaimana subsektor seni pertunjukan dalam ekosistem ekonomi kreatif mampu menggabungkan nilai-nilai warisan leluhur dengan kreativitas baru.

Bagi yang penasaran, pertunjukan Aniwayang berikutnya akan kembali digelar pada 4 Oktober 2025 di Museum Wayang, Kota Tua, Jakarta.

Acara ini akan diadakan secara rutin setiap bulan, memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk merasakan perpaduan seni tradisi dan inovasi yang ditawarkan oleh Aniwayang by Desa Timun.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru