JAKARTA – Saat banyak pasang mata menyoroti Bali dengan nada prihatin akibat banjir yang melanda, Presiden Prabowo Subianto justru memilih untuk berjalan santai di tengah hiruk pikuk Denpasar, ditemani Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
Kunjungan pada Sabtu (13/9) ini bukan sekadar tinjauan, melainkan sebuah pesan visual yang kuat: Bali baik-baik saja, dan siap menyambut kembali wisatawan.
Alih-alih menyusun agenda formal, Presiden Prabowo memilih untuk “blusukan”. Ia menembus gang-gang sempit di Jalan Gajah Mada, berbincang santai dengan warga, dan bahkan menyapa pedagang di Pasar Kumbangsari.
“Bapak Presiden tanya, apa yang paling dibutuhkan warga sekarang,” tutur I Wayan Sudarta, salah satu warga yang sempat berinteraksi langsung.
“Beliau janji akan pastikan bantuan sampai. Rasanya seperti bukan ketemu presiden, tapi ketemu paman sendiri,” imbuhnya sambil tersenyum.
Di Pasar Kumbangsari, suasana semakin cair. Seorang pedagang sayur, Ni Luh Putu, terkejut saat Presiden Prabowo berhenti di lapaknya.
“Saya kira cuma lewat, ternyata beliau ajak ngobrol dan tanya harga sayuran. Katanya, pasar harus selalu ramai. Itu bikin kami semangat,” cerita Ni Luh.
Menteri Pariwisata Widiyanti, yang mendampingi, tak menyembunyikan rasa dukanya. “Kami turut berduka cita atas korban meninggal dan juga keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.
Namun, ia dengan cepat mengalihkan fokus pada optimisme. “Mudah-mudahan ke depan kita bisa bangkit bersama dan menata kembali Denpasar, Bali dan daerah lainnya lebih baik lagi.”
Hak yang paling menarik dari pernyataan Menteri Widiyanti adalah konfirmasinya tentang sektor pariwisata. Meskipun ada isu “travel warning” dari beberapa negara, ia memastikan bahwa tidak ada dampak signifikan pada pergerakan wisatawan.
“Destinasi atau titik daya tarik wisata juga tidak ada yang terdampak. Dari sisi pariwisata, semua sudah berjalan dengan baik,” tegasnya.
Pernyataan ini seolah menjadi antitesis dari narasi media yang cenderung bombastis. Menteri Widiyanti dengan gamblang menjelaskan bahwa travel warning adalah hal lumrah dan bukan pertanda kehancuran pariwisata.
Ia bahkan menekankan, “Travel warning adalah prosedur standar. Negara mana pun akan mengeluarkan itu untuk memastikan keselamatan warganya. Tapi intinya adalah bagaimana pemerintah, termasuk Pemda Bali, telah berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki situasi dan sekarang insyaallah (Bali) sudah berjalan dengan baik, bisa menerima wisatawan.”
Kunjungan ini, dengan pendekatan yang tidak biasa, berhasil memberikan perspektif baru. Ini bukan lagi sekadar berita tentang bencana, tetapi kisah tentang ketahanan dan optimisme.
Sebuah “pesan” visual dari pemimpin tertinggi, bahwa Bali masih menjadi surga bagi para pelancong, dan pemerintah siap berada di garis depan untuk memastikan hal itu.

