JAKARTA – Koordinator Jaringan Masyarakat Jaga Jakarta, Yusuf Aryadi menilai tuduhan aparat keamanan sebagai aktor kericuhan dan kerusuhan di wilayah DKI Jakarta merupakan narasi berbahaya.
Tuduhan tersebut mencuat akibat insiden salah paham antara anggota Brimob dengan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI di Slipi, Jakarta Barat, Kamis, 28 Agustus 2025.
“Saya kira itu narasi yang tidak hanya hanya keliru, tapi tuduhan yang membahayakan kepercayaan publik terhadap institusi negara,” kata Yusuf kepada Holopis.com, Kamis (11/9/2025).
Ia menilai saat ini narasi tersebut sudah menjadi bahan propaganda di media sosial oleh sejumlah buzzer dan pendengun yang ternyata memiliki sangat banyak follower. Padahal sepanjang proses pengamanan aksi unjuk rasa hingga penanganan kerusuhan, TNI Polri menunjukkan bahwa mereka sangat solid di lapangan.
“Peristiwa itu viral di media sosial, serta menjadi bahan goreng oleh oknum-oknum yang membuat riuh di media sosial, Faktanya jelas, insiden itu sudah selesai dan identitas diverifikasi lalu ditutup dengan saling berjabat tangan. Tidak ada konflik, tidak ada keterlibatan aparat sebagai pemicu rusuh,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yusuf Aryadi menaruh keyakinan bahwa TNI dan Polri adalah garda terdepan keamanan bangsa. Menuduh keduanya sebagai aktor ricuh sama saja dengan merusak fondasi negara.
“Soliditas TNI-Polri itu harga mati. Insiden Slipi hanyalah kesalahpahaman teknis, selesai dengan baik, tidak ada konflik. Maka itu, menuduh aparat sebagai aktor kerusuhan adalah fitnah keji dan dapat diproses hukum,” ujarnya.
Terakhir, ia juga meminta kepada para influencer untuk jangan membuat keruh suasana serta lempar bola tanpa ada bukti dan fakta yang jelas. Sebab saat ini fokus utama nasional adalah menciptakan solidaritas demi persatuan dan kesatuan bangsa.
“Mari kita jaga bangsa kita karena masih banyak PR yang harus diselesaikan oleh pemerintahan Prabowo untuk menjalankan visi dan misi asa cita,” pungkasnya.

