Para Wijayanto Serukan Semua Eks Anggota JI Perbanyak Beri Maslahat, Bukan Mudharat

617
0 Shares

JAKARTA – Mantan Amir Jamaah Islamiyah (JI) Ustadz Para Wijayanto memaparkan bahwa tujuan utama dari Jamaah Islamiyah sebenarnya adalah ingin membawa kemaslahatan. Namun karena ada pemikiran yang salah dalam implementasi di lapangan, hal ini yang akhirnya membuat organisasi tersebut dicap sebagai teroris.

“Bergabung dengan JI adalah sarana menuju kemaslahatan, bukan tujuan utama. Jika keikutsertaan seseorang atau lembaga justru menimbulkan mafsadat, maka keterlibatan itu harus dihindari,” kata Ustadz Para Wijayanto dalam dialog Transformasi Ideologi Jalan Menuju Wasathiyah : Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Modera yang diselenggarakan di Bandar Lampung, Senin (1/9/2025).

Oleh sebab itu, mafsadah yang terjadi akibat aktivitas ekstremis Jamaah Islamiyah inilah yang akhirnya membuat dirinya dan para petinggi organisasi tersebut memilih untuk membubarkan diri. Sebab diyakini ketika keberadaan JI malah membuat umat Islam dan rakyat Indonesia semakin buruk, maka di saat itulah organisasi tersebut harus ditinggalkan demi kepentingan dan maslahat yang lebih besar.

“Tujuan awal dibentuknya JI adalah untuk menggapai kemaslahatan dalam Islam. Namun, jika keberadaan JI saat ini justru membawa kemudaratan bagi anggotanya, masyarakat, dan Islam itu sendiri, maka mempertahankan keberadaan JI adalah sebuah kebatilan yang harus ditinggalkan,” ujarnya.

Diterangkan Para Wijayanto, sebenarnya di dalam organisasi Jamaah Islamiyah tidak semuanya berpaham radikal yang ia sebut sebagai paham Ath-Thatharruf. Jumlahnya pun masih dianggap sangat mayoritas. Sementara yang memiliki paham radikal, ekstrem dan berlebih-lebihan dalam menjalani agama itu jumlahnya terbilang sedikit.

“Tidak semua anggota JI berpaham ekstrem. Hanya sebagian yang terjangkiti penyakit at-thatharruf,” tutur Para Wijayanto.

- Advertisement -

Setelah memahami kondisi yang faktual tersebut, Para Wijayanto mengakui jika semua orang yang meninggal karena aksi yang mereka sebut sebagai tindakan amaliyah tidak semuanya memiliki dasar pemikiran ekstrem, hanya saja karena mereka mendapatkan pemahaman yang lebih radikal sehingga nekat melakukan aksi-aksi semacam itu.

“Secara fakta, tidak sedikit korban dari aksi oknum JI yang berpaham dan bertindak ekstrem. Para korban kehilangan atau rusak agamanya, nyawanya, hartanya, kehormatannya, dan akalnya. Ini berarti tujuan syariat, maqashidusy syari’ah tidak tercapai, justru mafsadat yang lebih dominan muncul,” tukasnya.

Oleh sebab itu, Para Wijayanto mengajak kepada semua mantana nggota Jamaah Islamiyah untuk kembali merefleksikan diri agar pemahaman mereka dalam agama serta cara mereka berislam kembali kepada pandangan yang lebih bermanfaat bagi negara, nusa dan bangsa.

“Bagi rekan-rekan yang merasa bagian dari 80% (yang tidak ekstrem), tidak perlu merasa tertuduh atau tersinggung jika disebut bahwa JI adalah organisasi ekstrem berpaham at-thatharruf,” pungkasnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU