Ia mengapresiasi langkah LP Ma’arif NU yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, karena menurutnya sekolah adalah benteng pertahanan awal dalam membentuk karakter kebangsaan, moderasi beragama, dan toleransi.
“Lingkungan sekolah sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Ini akan menjadi benteng pertama bagi siswa agar tidak mudah terpengaruh oleh paham radikal,” kata Ken.
Ken juga memperingatkan bahwa kelompok radikal kini menyasar generasi muda, termasuk pelajar tingkat SMA bahkan SMP.
Ia mengungkapkan bahwa beberapa waktu lalu ia menerima laporan dua siswa dari MA Ma’arif yang sudah terpapar paham NII.
“Radikalisme itu seperti virus, bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia, pendidikan, atau profesi. Karena itu kita harus waspada,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ken pun menyebut bahwa ancaman radikalisme saat ini sangat nyata karena penyebarannya dilakukan melalui perangkat digital, khususnya media sosial.
Platform seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, TikTok, dan Telegram digunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda, merekrut anggota, dan membangun komunikasi tertutup.
“Biaya murah, jangkauan luas, dan sulit dilacak secara dini, inilah yang membuat media sosial menjadi alat utama penyebaran ideologi radikal,” jelas Ken.
Ia pun mengingatkan pentingnya bersikap kritis terhadap informasi yang beredar. “Saring dulu sebelum share. Jangan sampai kita menjadi korban hoaks, atau lebih parah lagi, ikut menjadi pelaku penyebar hoaks yang memperkuat narasi radikalisme,” tutupnya

