JAKARTA – Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan kepala Urusan Luar Negeri Suriah yang sedang berkunjung, Asaad Hassan al-Shibani, pada Rabu (13/8) menuduh Israel sebagai salah satu pelaku utama di balik kekerasan terbaru di Sweida, sebuah provinsi yang mayoritas penduduknya merupakan komunitas Druze di Suriah selatan.
“Salah satu pelaku utama di balik potret kelam (peristiwa Sweida) ini ternyata adalah Israel,” kata Asaad Hassan, dikutip Holopis.com, Kamis (14/8).
Fidan dalam sebuah konferensi pers gabungan menambahkan bahwa kebijakan ekspansionis Israel di kawasan tersebut juga merambah ke Suriah.
“Suriah harus menjadi tempat di mana semua rakyat, kepercayaan, dan budaya dijaga, dan dapat hidup berdampingan. Turkiye mendukung kedaulatan dan integritas teritorial Suriah, serta sependapat dengan sikap otoritas Suriah dalam mendorong inklusivitas di antara komunitas-komunitas yang beragam di negara itu,” kata Fidan.
“Suriah yang baru harus menjadi Suriah yang bersatu, di mana semua masyarakat, kepercayaan, dan budaya yang membentuk Suriah dijaga dan dapat hidup bersama,” tukasnya.
Sementara itu, Al-Shibani menuduh Israel berada di balik peristiwa di Sweida, menambahkan bahwa ancaman berulang Israel menargetkan kedaulatan Suriah dan mengancam keselamatan warga.
Menyoroti upaya-upaya yang dilakukan untuk memecah belah Suriah, al-Shibani menyatakan bahwa komunitas Druze merupakan bagian integral dari masyarakat Suriah, dan bahwa Damaskus tetap berkomitmen terhadap stabilitas regional.
Sebagai informasi, gencatan senjata di Sweida diumumkan pada 19 Juli oleh pemimpin sementara Suriah, Ahmad al-Sharaa, setelah beberapa pekan bentrokan sektarian dan serangan Israel. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pasukan pemerintah sementara akan menarik diri dari daerah-daerah berpenduduk, sementara faksi-faksi setempat dan pemimpin keagamaan Druze akan mengawasi keamanan internal.
Meskipun ada gencatan senjata, pertempuran telah meletus berulang kali, mengancam menggagalkan kesepakatan tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah konvoi bantuan kemanusiaan yang diatur oleh badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bulan Sabit Merah Arab Suriah memasuki provinsi itu, namun kekerasan yang kembali meletus dilaporkan telah mengganggu pengiriman bantuan lebih lanjut.

