JAKARTA – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta mengingatkan pemerintah untuk melindungi para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), sebagai dampak dari kesepakatan tarif impor antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).
Sukamta menyoroti kekhawatiran membanjirnya produk asing murah ke pasar domestik akibat kesepakatan tarif kedua negara tersebut. Parahnya, hal ini mendorong negara lain untuk mengikuti strategi yang sama, yakni ‘banting harga’ untuk bersaing di pasar Indonesia.
“Yang berpotensi terancam adalah produk-produk lokal. Bagaimana produk-produk lokal bisa bersaing dengan produk-produk luar tersebut,” ujar Sukamta dalam keterangannya dikutip Holopis.com, Kamis (17/7).
Sebagai langkah antisipasi, Sukamta mendorong pemerintah untuk memberikan perlindungan yang lebih kuat terhadap industri dalam negeri, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta produsen skala kecil yang paling rentan terdampak arus masuk produk impor murah.
Dengan demikian, keberpihakan terhadap penguatan industri lokal menjadi prioritas agar sektor UMKM tetap dapat berkembang dan bersaing di tengah dinamika perdagangan internasional.
Namun secara umum, Sukamta dalam pernyataannya menegaskan bahwa penurunan tarif impor dari AS menjadi 19 persen merupakan bukti bahwa posisi Indonesia mulai naik kelas dalam peta ekonomi global.
“Meski Indonesia belum bisa dikategorikan ke dalam negara maju, tapi kita optimis dengan tren yang positif, kita on the track ke arah sana,” ungkapnya.
Perubahan tarif ini terjadi setelah sebelumnya Trump mengumumkan tarif sebesar 32 persen atas produk Indonesia pada April lalu. Setelah melakukan negosiasi dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Trump akhirnya setuju menurunkan tarif impor tersebut menjadi 19 persen.
“Indonesia akan membayar tarif 19 persen kepada Amerika Serikat untuk semua barang impor dari mereka ke negara kita,” kata Trump kepada wartawan Gedung Putih, Rabu (16/7).
Sukamta menambahkan bahwa tren positif dalam produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia selama satu dekade terakhir menjadi indikator bahwa ekonomi Indonesia sedang menuju tahap yang lebih matang.
Ia pun berharap, peningkatan posisi Indonesia dalam aspek perdagangan akan memperkuat peran negara dalam isu global, termasuk perdamaian di Timur Tengah dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.

