Keluhan lain datang dari sektor kesehatan. Menurut Ibas, masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan kamar rawat inap di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah), bahkan tak sedikit yang harus antre berhari-hari. Bahkan ia juga menanyakan strategi peningkatan kualitas layanan BPJS Kesehatan di RSUD, agar masyarakat miskin tidak lagi merasa dipinggirkan.
“DPRD perlu dorong RSUD lebih terbuka dan responsif. Bisa juga dikembangkan layanan kesehatan keliling seperti mobile clinic agar pelayanan menjangkau masyarakat lebih cepat,” kata Ibas.
Dalam aspek lain, Ibas menyinggung kurangnya perhatian terhadap sarana olahraga skala kecil di lingkungan RT/RW, yang padahal sangat dibutuhkan masyarakat.
“Kami butuh revitalisasi lapangan kecil, bukan hanya stadion besar. Ini penting untuk ruang sehat warga,” ujarnya.
Soal kepemudaan, Ibas mendorong DPRD merancang program yang bisa mencegah anak muda dari jerat narkoba dan pergaulan bebas, termasuk mempertimbangkan jam malam remaja seperti di beberapa daerah lain. Dengan lugas dan mewakili suara warganya, Ibas menyampaikan bahwa para Ketua RT siap menjadi mitra strategis pemerintah, asalkan dukungan anggaran dan kebijakan nyata benar-benar diberikan.
“Kami bukan hanya petugas seremonial. Kami motor penggerak masyarakat. Jangan sampai janji tinggal janji. Komisi E harus hadir, mengawal, dan menyuarakan aspirasi rakyat di parlemen Jakarta,” tukas Ibas disambut tepuk tangan warga.
Terakhir, Ibas pun menyampaikan secara terbuka di hadapan warganya, bahwa agenda reses ini menjadi bukti bahwa semangat partisipasi warga di tingkat akar rumput semakin tinggi.
“Kini bola ada di tangan DPRD dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mampukah mereka menjawab?,” pungkas Ibas.




