HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan Himalaya di perbatasan Nepal dan China kembali bertambah. Hingga Minggu (30/8/2026), sedikitnya 781 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan.
Bencana tersebut bermula dari runtuhnya gletser pada Rabu (26/8). Material berupa es, batu, lumpur, dan puing kemudian terbawa aliran air dengan deras melewati lembah serta sungai di kawasan pegunungan, menghancurkan berbagai bangunan dan infrastruktur di sepanjang jalurnya.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat 781 korban meninggal dunia dan 2.502 orang masih hilang. Sementara di wilayah Gyirong County, Tibet, China, sebanyak 16 orang meninggal dunia dan 546 lainnya belum ditemukan.
Pemerintah China sebelumnya juga mengungkapkan bahwa 261 warga negara asing dari 23 negara masih belum diketahui keberadaannya di wilayah Tibet yang berdekatan dengan perbatasan Nepal.
Besarnya skala bencana membuat proses pencarian korban menghadapi medan yang sulit. Hujan deras kembali mengguyur sejumlah wilayah Nepal dan menyebabkan permukaan Sungai Trishuli naik. Kondisi tersebut membuat warga serta tim penyelamat di sekitar sungai bergerak ke tempat yang lebih tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
Operasi penyelamatan bahkan beberapa kali harus dihentikan sejak Jumat karena cuaca buruk dan kekhawatiran terhadap danau yang terbentuk di kawasan perbatasan Nepal-China. Danau tersebut sebelumnya sempat meluap ke Sungai Lhende Khola dan Trishuli.
Meski sebagian besar air danau dilaporkan telah mengalir keluar pada Sabtu malam, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Pemantauan menggunakan drone menemukan longsor baru sekitar 2,8 kilometer di bagian hilir danau. Material longsor tersebut kemudian membentuk semacam bendungan baru sekaligus menciptakan genangan air tambahan.
Pencarian Korban di Terowongan Pembangkit Listrik
Di Nepal, tim penyelamat kini semakin memusatkan perhatian pada lima proyek pembangkit listrik tenaga air yang ikut terendam banjir. Salah satunya adalah kompleks Upper Trishuli yang sebelumnya dilaporkan berpotensi menjadi lokasi terjebaknya ratusan orang.
Otoritas Nepal menerima informasi bahwa sekitar 350 orang kemungkinan masih berada di dalam sebuah terowongan di kompleks tersebut. Sekitar 10.000 personel militer Nepal telah dikerahkan bersama tim khusus dari China dan India untuk membantu proses penyelamatan.
Pada Minggu, militer Nepal mengirimkan alat-alat berat melalui jalur udara menuju lokasi yang berada di kawasan terpencil. Tim penyelamat kemudian berhasil mencapai pintu masuk salah satu terowongan dan mulai membersihkan material yang menghalangi akses.
Setelah jalur berhasil dibuka, tim yang membawa pasokan oksigen serta kamera direncanakan masuk untuk mencari orang-orang yang masih mungkin terjebak di dalam.
Kepala Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Nepal, Dharam Raj Uprety, mengatakan kondisi di lokasi sangat sulit karena banyaknya material yang menutup akses.
“Ini sangat sulit karena ada banyak puing dan kami tidak bisa menggunakan peledak untuk membuka jalan,” ujar Uprety, dikutip Holopis.com, Minggu (30/8).
Selain bantuan untuk penyelamatan di dalam terowongan, Nepal juga membutuhkan dukungan internasional untuk sejumlah pekerjaan khusus. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, mengatakan bantuan dibutuhkan untuk operasi penyelamatan di terowongan, pemeriksaan DNA, penyimpanan jenazah dalam fasilitas berpendingin, hingga identifikasi secara forensik terhadap jenazah yang telah mengalami pembusukan.




