JAKARTA – Perundingan gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia yang sudah direncanakan sejak lama tampaknya tidak berjalan sesuai dengan rencana. Ukraina dan Rusia gagal dalam menyetujui perjanjian gencatan senjata yang pertama kali dilakukan setelah berperang selama tiga tahun.
Seorang sumber di delegasi Ukraina yang tidak menyebutkan namanya mengatakan bahwa Rusia memberikan tuntutan yang sangat tinggi dan melampaui hal-hal yang sebelumnya pernah dibahas.
“Tuntutan Rusia jauh dari kenyataan dan jauh melampaui apa pun yang pernah dibahas sebelumnya,” demikian disampaikan seorang delegasi Ukraina, dikutip Holopis.com, Sabtu (17/5).
Delegasi tersebut mengatakan bahwa Rusia meminta agar Ukraina menarik diri dari sebagian wilayah mereka jika mau gencatan senjata.
“Dan persyaratan lain yang tidak dapat dilaksanakan dan tidak membangun,” kata delegasi tersebut.
Sebagai informasi Sobat Holopis, kedua negara saat ini sedang di bawah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar mengakhiri perang mereka.
Pembicaraan yang berlangsung di Istanbul Turki tersebut berjalan selama kurang dari dua jam. Saat ini, masih belum ada pengumuman apakah kedua belah pihak akan kembali bertemu.
Volodymyr Zelenskyy Ingin Gencatan Seenjata yang Jujur dan Tanpa Syarat
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa prioritas Ukraina adalah mendapatkan gencatan senjata yang juju serta tanpa syarat untuk menghentikan pembunuhan masyarakat tak berdosa.
Seperti yang sudah ia katakana sebelumnya, Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia harus diberikan sanski yang lebih kuat, terutama dalam sektor energi dan perbankan.
Ukraina pun diketahui mengumpulkn sekutu Baratnya setelah diskusi unuk gencatan senjata tersebut gagal mendapatkan hasil yang diinginkan.


