JAKARTA – Nama artis populer Korea Selatan Kim Soo Hyun saat ini sedang menjadi pembicaraan hangat netizen. Hal tersebut karena Kim Soo Hyun dituding menjadi penyebab keterpurukan aktris Kim Sae Ron yang meninggal dunia.
Kim Soo Hyun dituding sudah memacari Kim Sae Ron sejak ia berusia 15 tahun di tahun 2015. Ia dituding melakukan child grooming.
Bagi Sobat Holopis yang belum memahami apa itu child grooming, berikut ini penjelasan terkait child grooming, dan mengapa hal ini sangat berbahaya.
Apa Itu Child Grooming?
Di era digital, anak-anak lebih rentan terhadap berbagai ancaman yang tidak selalu terlihat oleh orang tua. Salah satu ancaman paling berbahaya adalah child grooming, yaitu proses manipulasi yang dilakukan oleh predator untuk mendapatkan kepercayaan anak, dengan tujuan mengeksploitasi mereka secara emosional atau seksual.
Grooming bisa terjadi di dunia nyata maupun online, seperti melalui media sosial, aplikasi chatting, atau platform game. Karena prosesnya bertahap dan dilakukan dengan cara yang halus, banyak anak yang tidak menyadari bahaya ini hingga terlambat.
Ciri-Ciri Child Grooming
1. Pelaku Terlalu Baik dan Memberi Hadiah Berlebihan
Salah satu cara paling umum yang digunakan oleh predator adalah menarik perhatian anak dengan kebaikan yang berlebihan. Mereka berusaha menciptakan rasa nyaman agar anak merasa diperhatikan dan mulai bergantung pada mereka.
Pelaku bisa memberikan hadiah seperti uang, mainan, gadget, atau hal lain yang diinginkan anak. Mereka membuat anak merasa spesial, sehingga hubungan emosional mulai terbentuk. Pada titik ini, anak mungkin belum merasa ada yang aneh, tetapi pemberian hadiah terus-menerus bisa menjadi tanda bahaya.
Contoh: Anak tiba-tiba menerima hadiah atau uang dari seseorang yang baru dikenal, tanpa alasan yang jelas.
2. Berusaha Memisahkan Anak dari Keluarga dan Teman
Setelah berhasil menarik perhatian anak, pelaku mulai mencoba menjauhkan anak dari orang-orang terdekatnya. Mereka bisa meyakinkan anak bahwa hanya mereka yang benar-benar peduli dan memahami perasaan anak, sementara keluarga atau teman tidak bisa mengerti mereka.
Pelaku mungkin akan memberikan nasihat yang tampaknya mendukung anak, tetapi sebenarnya bertujuan membuat mereka merasa lebih dekat dengan pelaku dibandingkan dengan orang tua atau teman-temannya.
Contoh: Anak menjadi lebih tertutup, mulai merahasiakan hal-hal yang dulu biasa diceritakan kepada keluarga, atau lebih memilih berbicara dengan seseorang di internet dibandingkan teman-teman di dunia nyata.
3. Mengajak Anak Berbicara Hal Sensitif
Setelah hubungan emosional terbentuk, pelaku secara bertahap mulai membawa percakapan ke arah yang lebih sensitif. Awalnya, mereka bisa menanyakan hal-hal pribadi yang tampaknya tidak berbahaya, tetapi lama-kelamaan mengarah pada topik seksual atau eksplisit.
Pelaku bisa menggunakan berbagai cara untuk membuat anak merasa nyaman berbicara tentang hal-hal yang seharusnya tidak mereka bahas. Mereka bisa berpura-pura mendidik, bersikap humoris, atau bahkan menggunakan rasa penasaran alami anak untuk menggiring percakapan ke arah yang mereka inginkan.
Contoh: Pelaku bertanya kepada anak tentang perubahan fisik, meminta mereka mengirim foto pribadi, atau berbicara tentang hubungan romantis secara tidak pantas.
4. Meminta Anak Menjaga Rahasia
Pelaku akan mendorong anak untuk merahasiakan hubungan mereka, baik melalui bujukan, manipulasi emosional, atau ancaman. Mereka bisa mengatakan bahwa ini adalah “rahasia kecil” antara mereka dan anak, atau mengancam anak dengan berbagai cara jika mereka mencoba bercerita kepada orang lain.
Pelaku juga bisa berpura-pura menjadi korban, misalnya dengan mengatakan bahwa mereka akan mengalami masalah besar atau merasa sangat sedih jika anak mengungkapkan rahasia tersebut. Dengan cara ini, anak bisa merasa bersalah dan tetap diam, meskipun mereka sebenarnya merasa tidak nyaman.
Contoh: Anak menjadi lebih tertutup, mudah cemas, atau terlihat ketakutan saat menerima pesan atau panggilan dari seseorang tertentu.
Cara Mengatasinya
Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak, mengajarkan mereka tentang privasi dan batasan diri, serta mengawasi aktivitas mereka, terutama di dunia digital. Jika ditemukan tanda-tanda grooming, segera ajak anak berbicara dengan lembut dan laporkan kepada pihak berwenang untuk mencegah dampak lebih lanjut.


