JAKARTA – Direktur eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto memberikan penjelasan bahwa sebenarnya Indonesia Cerah itu masih bisa diraih ketika sejumlah variabel penting dapat dituntaskan dengan baik dan berintegritas.
Salah satu yang ia sebut adalah soal pemberantasan korupsi. Hal ini ia sampaikan karena kasus korupsi di Indonesia rerata hanya sekadar ijon belaka atau sebatas alat kompromi atau hanya alat sandera politik.
“Kasus korupsi bukan jadi alat kompromi dan politik sandera belaka,” kata Hari kepada Holopis.com, Kamis (13/3/2025).
Oleh sebab itu, jika Indonesia Cerah benar-benar dapat diraih, maka penegakan hukum termasuk dalam konteks extra ordinary crime yakni korupsi harus dijalankan dengan penuh integritas dan tanpa pandang bulu.
“Harus ada efek jera bagi koruptor-koruptor kakap yang bermain di APBN maupun kebijakan tertentu, demi menjaga dinasti dan oligarki sehingga wujud sila ke 5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Kemudian adalah soal ideologi. Menurut Hari, Indonesia harus menegakkan ideologi Pancasila sebagai satu-satunya falsafah bangsa. Sebab, Pancasila adalah sebaik-baiknya pedoman yang terbaik bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia.
“Pancasila sebagai ideologi bangsa harus dijadikan acuan menjaga keindonesiaan. Kehidupan bermasyarakat, Pancasila mesti melekat bagi setiap manusia Indonesia,” tuturnya.
Dengan demikian, aktivis 98 ini pun menyatakan bahwa Pancasila harus diamalkan dengan sangat seksama, bukan sekadar jargon dan omong-omong belaka.
“Pancasila harus menjadi aksi, bukan hanya di mulut,” sambung Hari.
Variabel terakhir menurut Hari Purwanto adalah mental dan karakter. Ditambah lagi tak sedikit pula para pemimpin di Indonesia belum selesai dengan dirinya sendiri. Akhirnya, banyak kasus penyimpangan dan penyalahgunaan jabatan hanya untuk memperkaya dan mengakomodir kepentingan pribadi ketimbang kepentingan rakyat.
Oleh sebab itulah, Hari Purwanto meyakini bahwa Indonesia Cerah dapat diwujudkan jika para pejabatnya tidak lagi bermental korup dan serakah, sehingga mereka benar-benar dapat mengabdi untuk bangsa dan negara secara totalitas.
“Indonesia menjadi cerah jika pemimpinnya sudah selesai dengan kehidupannya. Sehingga niat untuk korupsi jauh dari pemimpin yang membawa Indonesia menjadi cerah,” pungkasnya.

