HOLOPIS.COM, JAKARTA – Anggota Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Budiman Sudjatmiko mengakui bahwa pihaknya pernah meminta Prabowo Subianto melakukan sedikit kenakalan saat debat capres perdana.
Kenakalan tersebut menurut Budiman adalah menyerang masalah personal para capres seperti halnya ketika Prabowo kerap disinggung permasalahan pelanggaran HAM.
“Maaf kami sebagai tim penasehat debatnya, kadang-kadang nakal, ‘Pak sesekali nakal dong agak nembak dikit, biar seru. Toh bapak juga sering ditembak berkali’,” kata Budiman pada Rabu (13/12) seperti dikutip Holopis.com.
Namun, Budiman kemudian tersentak kaget ketika justru permintaannya tersebut ditolak mentah-mentah oleh Prabowo Subianto. Kata Budiman, Prabowo justru melarang melakukan manuver semacam itu dalam kompetisi yang seharusnya berlangsung lebih sehat.
“Ini demi Allah, demi Tuhan nih, Pak Prabowo bilang tidak, enggak boleh,” imbuhnya.
Prabowo, lanjut Budiman, menginginkan agar debat Pilpres 2024 sebagai sarana adu gagasan bukan tempat untuk saling serang, apalagi sekadar untuk menjatuhkan lawan politik.
“Pak Prabowo pengin panggung debat itu menjadi tempat untuk tiga orang ini menjadi shinning untuk moncer,” ucapnya.
Dengan debat tersebut, Budiman menilai bahwa Prabowo pun sebenarnya bisa saja menyerang permasalahan mulai dari kasus korupsi dan berbagai hal lainnya. Apalagi Ganjar Pranowo pun namanya pernah terseret di dalam kasus korupsi e-KTP, kemudian Anies Baswedan dengan kasus dugaan tindak pidana korupsi Formula E. Hanya saja, kasus-kasus semacam itu tak dilontarkan oleh Prabowo dalam sesi tersebut.
“Kenapa Pak Prabowo nggak angkat isu, katakanlah isu tertentu dengan calon yang lain, soal korupsi atau apa pun. Ya, misalnya, apalah tadi soal korupsi atau apa pun, menolak. Karena apa, itu biarkan proses di tempat lain. Proses pengadilan, ini proses debat politik, cari calon pemimpin,” terangnya.
Oleh sebab itu, Budiman menyatakan bahwa TKN optimis bahwa pilihan rakyat adalah kedaulatan tertinggi. Jika memang mereka menganggap Prabowo Gibran layak menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029, tentu takdir itu tidak akan meleset.
“Biarkan rakyat yang menilai siapa yang layak jadi presiden,” imbuhnya.