HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo mengklaim banyaknya korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan bukan disebabkan oleh gas air mata, melainkan akibat kekurangan oksigen.
Hal tersebut berdasarkan penjelasan dari sejumlah ahli dan dokter spesialis yang menangani korban, baik yang meninggal dunia maupun luka.
“Dari dokter spesialis penyakit dalam, penyakit paru, penyakit THT, dan juga spesialis penyakit mata, tidak satu pun yang menyebutkan bahwa penyebab kematian adalah gas air mata. Tetapi penyebab kematian adalah kekurangan oksigen,” kata Dedi dalam keterangan yang diterima Holopis.com, Senin (10/10).
Dikatakan Dedi, kekurangan oksigen tersebut terjadi akibat banyaknya orang yang berdesak-desakan, terinjak-injak, dan bertumpuk-tumpukan.
“Mengakibatkan kekurangan oksigen di pada pintu 13, pintu 11, pintu 14, dan pintu 3. Ini yang jadi korbannya cukup banyak,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dedi juga mengakui adanya sejumlah gas air mata yang ditembakkan personel Polri di tragedi Kanjuruhan sudah habis masa batas gunanya alias kadaluarsa.
“Ya ada beberapa yang diketemukan (kadaluasa) ya. Yang tahun 2021, ada beberapa ya,” kata Dedi.
Meski begitu, belum dapat dipastikan jumlah dari gas yang sudah kadaluarsa tersebut. Dedi mengatakan, hal tersebut saat ini masih dalam tahap pendalaman oleh pihak Laboratorium Forensik (Labfor) Polri.


